PT AKR Corporindo Tbk melaporkan hasil Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 8 September 2026, pukul 09.00 sampai 10.00 WIB, dalam rangka peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Keikutsertaan dalam acara ini sekaligus menggantikan kewajiban public expose tahunan Perseroan untuk 2026. Acara diikuti sekitar 100 peserta melalui zoom dengan syarat hadir minimal 15 menit, dan presentasi disampaikan oleh Presiden Direktur Haryanto Adikoesoemo, Head of Investor Relation Ignatius Teguh Prayoga, serta Corporate Secretary Arum Pawestri Handayani. Setelah presentasi, Perseroan menggelar konferensi pers yang dihadiri 20 wartawan terakreditasi dari berbagai media.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen memaparkan bahwa pada semester I 2026 pendapatan segmen petroleum tumbuh 39 persen dan bahan kimia tumbuh 26 persen, sementara laba bruto bisnis trading dan distribusi naik 8 persen. Kawasan industri JIIPE mencatat penjualan lahan sekitar 58 hektare, dan pendapatan dari listrik serta utilitas kepada tenant tumbuh 37 persen seiring makin banyak tenant yang beroperasi. Manajemen menyebut ROA (return on asset, ukuran seberapa efisien aset perusahaan menghasilkan laba) Perseroan mencapai 22 persen dan ROE (return on equity, ukuran laba dibanding modal sendiri) sebesar 7 persen pada semester I 2026.

Untuk belanja modal tahun ini, Perseroan menganggarkan sekitar Rp1 triliun, dengan realisasi sejauh ini Rp546 miliar, kurang lebih sama dengan tahun 2025. Dana tersebut diarahkan untuk menjaga keandalan infrastruktur distribusi BBM dan bahan kimia, serta mendukung pengembangan infrastruktur dan utilitas di JIIPE. Untuk jangka panjang, Perseroan menyebut sedang menjajaki sumber pertumbuhan baru secara bertahap, meliputi utilitas industri, infrastruktur LNG, energi surya, BBM ritel, dan avtur, dengan syarat kelayakan proyek dan disiplin investasi.

Soal dividen, manajemen menegaskan kebijakan Perseroan adalah membagikan sekurang-kurangnya 30 persen dari laba bersih apabila laba bersih tahunan melebihi Rp50 miliar, dengan tetap memperhitungkan kebutuhan pendanaan, posisi keuangan, dan persetujuan organ Perseroan. Manajemen juga menyebut penerapan skema harga pass through, yaitu fluktuasi harga bahan kimia dan BBM diteruskan secara proporsional ke pelanggan, sebagai salah satu faktor yang menjaga margin usaha di tengah gejolak harga komoditas global, termasuk dampak gangguan di Selat Hormuz.