PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menegaskan peringkat idAAA, yaitu peringkat tertinggi yang diberikan lembaga itu, untuk PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) dengan kode saham APIA, beserta seluruh obligasi yang diterbitkannya. Untuk instrumen syariah, PEFINDO memberi peringkat idAAA(sy). Outlook peringkat perusahaan ditetapkan stabil untuk periode 8 September 2026 sampai 1 September 2027. Hasil pemeringkatan ini diumumkan 8 September 2026 dan diterima perusahaan sehari setelahnya.

Obligasi yang tercakup dalam pemantauan ini antara lain Obligasi Berkelanjutan I Angkasa Pura II Tahap II Tahun 2020 Seri C senilai Rp1,602 triliun yang jatuh tempo 13 Agustus 2027, dan Seri D senilai Rp457 miliar yang jatuh tempo 13 Agustus 2030. Selain itu ada Obligasi I Angkasa Pura I Tahun 2016 Seri C, Obligasi Berkelanjutan I Angkasa Pura I Tahap I Tahun 2021 Seri B, C, dan D, serta Obligasi Berkelanjutan II Angkasa Pura I Tahap I Tahun 2024 Seri A, B, dan C. Untuk sukuk, peringkat idAAA(sy) diberikan kepada Sukuk Ijarah I Angkasa Pura I Tahun 2016 Seri C, Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Angkasa Pura I Tahap I Tahun 2021 Seri B, C, dan D, serta Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar Jangka Panjang Angkasa Pura I Tahun 2023.

PEFINDO menyebut peringkat APIA terutama ditopang oleh kemungkinan dukungan sangat kuat dari induk usahanya, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang menguasai kepemilikan hampir 100 persen saham APIA, sementara Pemerintah Indonesia memegang dua lembar saham Dwiwarna. APIA sendiri terbentuk pada September 2024 dari penggabungan dua operator bandara milik negara dan kini mengelola 37 bandara di seluruh Indonesia. Data keuangan per akhir Juni 2026 yang belum diaudit menunjukkan total aset yang disesuaikan naik menjadi Rp90,9 triliun dari Rp90,5 triliun akhir 2025. Namun ekuitas turun dari Rp37,15 triliun akhir 2025 menjadi Rp30,42 triliun, dan laba bersih setelah kepentingan minoritas untuk periode enam bulan itu hanya Rp619,2 miliar, jauh lebih kecil dibanding laba setahun penuh 2025 yang mencapai Rp7,86 triliun. Rasio utang terhadap EBITDA tercatat 4,9 kali dan rasio utang terhadap ekuitas 1,4 kali per Juni 2026.