Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mewakili Indonesia dalam Pertemuan ke-58 Menteri Ekonomi ASEAN di Metro Manila, Filipina, akhir pekan lalu. Pertemuan yang berlangsung di bawah keketuaan Filipina ini membahas sejumlah agenda ekonomi kawasan, mulai dari peta jalan industri semikonduktor, pusat unggulan bagi usaha mikro kecil dan menengah, hingga kesiapan jalur logistik baru yang menghubungkan Kalimantan dengan negara ASEAN lain. Agenda semacam ini penting bagi pelaku usaha Indonesia karena aturan main perdagangan dan investasi lintas ASEAN, termasuk soal insentif dan infrastruktur, ikut dibentuk dari forum ini.
ASEAN mencatat pertumbuhan ekonomi 4,9 persen pada 2025 dan diproyeksikan melambat menjadi 4,5 persen pada 2026, menurut data yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut. Perdagangan barang di kawasan ini tumbuh 13,7 persen sepanjang 2025 menjadi US$4,4 triliun, naik dari US$3,8 triliun pada tahun sebelumnya. Investasi asing langsung yang masuk ke ASEAN juga naik 10,1 persen menjadi US$245,7 miliar, sementara perdagangan jasa antarnegara ASEAN tumbuh sekitar 5,1 persen.
Dari sejumlah agenda prioritas ekonomi yang dibahas, baru satu yang benar-benar rampung, yaitu program perluasan akses layanan keuangan ke lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha. Tiga agenda lain masih berproses, yakni aturan pergerakan pekerja digital lintas negara ASEAN, pusat unggulan untuk UMKM, dan peta jalan pengembangan industri semikonduktor kawasan. Khusus semikonduktor, Indonesia meminta agar negara ASEAN tidak saling bersaing menawarkan insentif investasi yang berbeda-beda, sembari mendorong pelibatan kalangan kampus untuk riset dan penguatan pasokan bahan baku mineral kritis.
Indonesia juga menyatakan tengah menyiapkan aspek hukum dan infrastruktur dalam negeri untuk mendukung Borneo Corridor, jalur logistik lintas negara di Kalimantan yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Dalam pertemuan ini, para menteri ekonomi ASEAN turut mengesahkan deklarasi percepatan penerapan sementara protokol kedua perjanjian dagang barang ASEAN, sebagai tindak lanjut arahan para pemimpin ASEAN pada Mei 2026. Di sela pertemuan, Wamendag Roro juga dijadwalkan bertemu secara bilateral dengan Inggris, Rusia, dan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
