Astra Graphia Tbk (ASGR) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Perusahaan membukukan pendapatan bersih konsolidasian Rp2,35 triliun, naik 4,1 persen dari Rp2,26 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Laba periode berjalan tercatat Rp208,59 miliar, naik 15,1 persen dari Rp181,26 miliar setahun sebelumnya. Laba per saham dasar dan dilusian naik dari Rp134,39 menjadi Rp154,65. Presiden Direktur Hendrix Pramana mengatakan pertumbuhan ini didorong oleh segmen Solusi Dokumen dan Solusi Teknologi Informasi, serta penerapan operational excellence dan pengelolaan arus kas yang baik.

Dari sisi arus kas, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi naik menjadi Rp259,65 miliar dari Rp248,67 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun kas dan setara kas di akhir periode justru turun menjadi Rp1,80 triliun dari Rp1,85 triliun pada akhir 2025, terutama karena perusahaan membayarkan dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp284,59 miliar, jauh lebih besar dibanding pembayaran dividen Rp107,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu, yang merupakan gabungan dividen interim dan final 2024.

Akibat pembayaran dividen tersebut, total ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun dari Rp2,09 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp2,02 triliun pada akhir September 2026, meskipun ada tambahan laba periode berjalan Rp208,59 miliar. Total aset naik tipis menjadi Rp3,13 triliun dari Rp3,12 triliun, sementara total liabilitas naik menjadi Rp1,11 triliun dari Rp1,03 triliun, salah satunya didorong kenaikan beban akrual jangka pendek menjadi Rp262,49 miliar dari Rp125,23 miliar. Dalam surat pengantarnya ke Bursa Efek Indonesia yang ditandatangani Corporate Secretary Trivena Nalsalita, perusahaan menegaskan tidak ada perubahan lebih dari 20 persen pada pos total aset dan liabilitas, sesuai ketentuan Peraturan BEI Nomor I-E.