Astra International Tbk menyampaikan materi Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia melalui surat bernomor 001/IR/IX/2026 tertanggal 7 September 2026, ditandatangani Corporate Secretary Gita Tiffany Boer, sebagai kelanjutan dari surat pemberitahuan rencana public expose tertanggal 27 Agustus 2026. Materi yang dilampirkan berisi paparan kinerja keuangan semester I 2026. Pendapatan bersih konsolidasi tercatat Rp157,913 triliun, naik 3 persen dibanding periode sama tahun lalu. Namun laba bersih turun 19 persen menjadi Rp12,533 triliun, sementara laba bersih di luar item non-recurring turun 7 persen menjadi Rp14,892 triliun dari Rp16,041 triliun. Laba per saham tanpa item non-recurring turun 6 persen menjadi Rp372, dan bila memperhitungkan item non-recurring turun 18 persen.
Secara segmen, laba bersih Otomotif naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, ditopang penjualan mobil grup yang naik 10 persen dengan pangsa pasar 51 persen serta penjualan motor Honda naik 1 persen dengan pangsa 77 persen. Divisi komponen Astra Otoparts membukukan laba naik 23 persen menjadi Rp921 miliar. Segmen Jasa Keuangan naik 6 persen menjadi Rp4,6 triliun berkat portofolio pembiayaan yang lebih besar. Sebaliknya, segmen Mining Solutions & Heavy Equipment anjlok 46 persen menjadi Rp2,7 triliun di luar item non-recurring, atau turun 88 persen menjadi Rp607 miliar bila item non-recurring senilai Rp2,1 triliun di divisi geothermal dan nikel diperhitungkan. Penyebabnya adalah minimnya penjualan emas dari Tambang Martabe yang baru pulih operasinya pada kuartal kedua, serta penurunan kuota produksi batu bara nasional (RKAB) yang menekan permintaan alat berat, jasa pertambangan, dan volume produksi batu bara. Segmen Lain-lain naik 31 persen menjadi Rp1,6 triliun, didorong kinerja agribisnis yang membaik seiring harga dan volume CPO lebih tinggi, serta kontribusi baru dari platform gudang industri yang baru diakuisisi; segmen ini juga mencatat rugi nilai wajar non-recurring Rp259 miliar, membaik dari Rp484 miliar tahun lalu akibat fluktuasi mark-to-market investasi ekuitas grup.
Dari sisi aksi korporasi, sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026 Astra dan United Tractors telah merampungkan pembelian kembali saham senilai total Rp7,4 triliun. Astra mengumumkan program buyback baru senilai hingga Rp8 triliun untuk periode 12 bulan mulai Juli 2026, sementara United Tractors mengumumkan program buyback baru hingga Rp2 triliun untuk periode 3 bulan mulai Juli 2026. Astra juga mengadopsi program kepemilikan saham jangka panjang bagi manajemen (MSOP) pada Juli 2026.
