PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) menyampaikan laporan keuangan tahunan 2025 yang diaudit oleh KAP Irwanto dan Rekan dengan opini wajar tanpa modifikasian, namun disertai paragraf penekanan mengenai ketidakpastian material atas kelangsungan usaha. Grup mencatat rugi bersih Rp259,52 miliar sepanjang 2025, melonjak dari rugi Rp23,7 miliar setahun sebelumnya. Total ekuitas ambles 83,45 persen dari Rp310,71 miliar menjadi Rp51,42 miliar, sementara total aset turun 54,98 persen dari Rp458,59 miliar menjadi Rp206,45 miliar.

Dalam surat penjelasan ke OJK dan Bursa Efek Indonesia tertanggal 1 September 2026, Direktur Daniel Tagu Dedo memerinci penyebabnya. Penurunan nilai aset dalam pembangunan menyumbang Rp177,37 miliar, impairment goodwill dari proyek yang belum beroperasi Rp45,5 miliar, beban pajak Rp10,16 miliar, dan kerugian klaim bank garansi Rp8,29 miliar. Klaim bank garansi itu dicairkan oleh PT PLN (Persero) karena proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) milik Grup gagal mencapai target tanggal mulai beroperasi komersial, sehingga dana yang dibatasi penggunaannya turun dari Rp16,29 miliar menjadi Rp7,99 miliar. Aset lancar lainnya senilai Rp11,61 miliar juga hilang dari pembukuan karena jaminan bank garansi dari Carbon Resilience Pte Ltd asal Singapura di UOB Bank telah habis masa berlakunya.

Auditor mencatat sebagai hal audit utama bahwa aset dalam pembangunan senilai Rp177,7 miliar, setara 86,07 persen dari total aset Grup, merupakan proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro dan tenaga air dengan total kapasitas hingga 510,8 megawatt yang tersebar di Sumatera Utara, Kalimantan, Sumatera Selatan, Aceh, dan Jakarta. Lima proyek sudah mengantongi perjanjian jual beli listrik dengan pihak ketiga dan dua proyek lain sudah mendapat izin prinsip dan izin lokasi, tetapi hingga akhir 2025 Grup masih mencari sumber pembiayaan dari pihak ketiga baik berupa pinjaman maupun investasi. Sepanjang 2025, penurunan nilai aset dalam pembangunan yang dibebankan ke laporan laba rugi mencapai Rp181,24 miliar. Rasio lancar perseroan hanya 0,11 persen, jauh di bawah 9,68 persen pada 2024, karena liabilitas jangka pendek Rp150,4 miliar jauh melampaui aset lancar yang tersisa, yang hanya Rp168,7 juta.