PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) menjawab permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia terkait kinerja keuangan interim per 30 Juni 2026 dan rencana pengambilalihan sahamnya oleh PT GMP Group Investama. Dalam surat bertanggal 6 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur Arnoldus Jansen Kustianto, perseroan mengonfirmasi pendapatan semester I 2026 turun 15,77% dibanding periode sama tahun 2025, sementara laba kotor turun lebih dalam lagi, 27,48%, karena harga pokok penjualan relatif tidak berubah meski pendapatan merosot.
Beban penjualan melonjak 215%, termasuk beban publikasi dan promosi yang naik dari Rp25 juta pada Juni 2025 menjadi Rp1,3 miliar pada Juni 2026, yang menurut perseroan dipicu insentif konsumen yang baru direalisasikan pada periode ini. Akibat kombinasi pendapatan turun dan beban naik, ASPI membukukan rugi usaha dan rugi bersih, sekaligus arus kas dari kegiatan operasi berbalik negatif Rp3 miliar, dari sebelumnya positif Rp189,8 juta pada Juni 2025.
Soal utang, ASPI menyebut pinjaman dari Tuan Hermanto senilai Rp24,8 miliar yang semula jatuh tempo 26 Agustus 2026 tidak dikenakan bunga, dan telah disepakati diperpanjang satu tahun hingga 26 Agustus 2027. Untuk rencana pengambilalihan oleh GMP Group Investama, perseroan menyatakan proses masih dalam tahap negosiasi dan due diligence, dengan pihak KJPP dan kuasa hukum meminta tambahan waktu karena penelaahan dokumen belum selesai.
Perseroan juga memperbarui status tiga proyeknya: Grandia Liv di Parung Panjang, dari rencana sekitar 600 unit rumah, baru 123 unit terbangun dan 74 terjual; Arkamaya Residence di Pondok Cabe, dari 26 unit rencana dan 26 unit terbangun, tersisa 1 unit ready stock yang belum terjual; serta Royal Matoa di Cinere, Depok, dengan 25 rumah dan 9 ruko, yang sudah 100% terjual.
