PT Mitra Angkasa Sejahtera Tbk (BAUT) menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham (shareholder loan) senilai US$2,5 juta, setara sekitar Rp44,79 miliar, dengan NA Fasteners Pte Ltd (NAF) selaku pemegang saham utama yang menguasai 54,16 persen saham perusahaan. Transaksi diteken pada 24 Agustus 2026. Pinjaman ini bebas bunga, tanpa jaminan, berjangka waktu 4 tahun dan dapat diperpanjang, serta bisa dilunasi lebih awal tanpa denda.
Nilai transaksi setara 26 persen dari ekuitas perusahaan per 31 Desember 2025, sehingga tergolong transaksi material menurut aturan OJK. Karena porsinya di bawah 50 persen ekuitas, transaksi ini tidak memerlukan persetujuan RUPS, meski tetap masuk kategori transaksi afiliasi karena melibatkan pemegang saham pengendali. Dana pinjaman rencananya dipakai untuk modal kerja, termasuk pembelian persediaan dalam skala besar, pengembangan infrastruktur ritel, dan peningkatan kapasitas distribusi. Laporan pendapat kewajaran KJPP Felix Sutandar dan Rekan tertanggal 26 Mei 2026 menyebut dana yang dihimpun NAF juga akan disalurkan untuk mendukung kebutuhan modal kerja anak usaha BAUT, PT Rantai Jaringan Sukses, dan menyimpulkan transaksi ini wajar.
Dalam proyeksi dampak keuangan yang disusun berdasarkan laporan posisi keuangan per 31 Desember 2025, pencairan pinjaman ini menambah kas perusahaan sekitar Rp41,96 miliar dan dicatat sebagai utang jangka panjang kepada pihak berelasi dengan nilai yang sama. Akibatnya, total liabilitas Perseroan naik dari Rp57,65 miliar menjadi Rp99,60 miliar, sementara total ekuitas tetap di Rp171,77 miliar karena dana ini tercatat sebagai utang, bukan setoran modal. Laporan penilai juga mencatat bahwa pinjaman bisa jatuh tempo lebih awal dari jadwal 4 tahun jika Perseroan tidak memenuhi target kinerja operasional, terjadi wanprestasi, atau NAF menyampaikan Exit Notice, kondisi yang berpotensi menekan likuiditas perusahaan.
