PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyampaikan materi Public Expose Tahunan kepada Bursa Efek Indonesia, terkait dengan acara Public Expose Live yang dijadwalkan pada 9 September 2026. Materi presentasi memuat kinerja keuangan konsolidasi semester I 2026: laba bersih naik dari Rp10,1 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp10,8 triliun, tumbuh 7 persen secara tahunan. Laba inti sebelum pencadangan (PPOP) tercatat Rp18,5 triliun, tumbuh 14,5 persen secara tahunan dan menjadi capaian semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir, ditopang pertumbuhan pendapatan bunga dan pendapatan berbasis komisi yang berimbang.

Dari sisi pembiayaan, total kredit BNI naik dari Rp778,7 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp968,5 triliun pada Juni 2026, tumbuh 24,4 persen atau bertambah sekitar Rp190 triliun, dengan segmen wholesale atau korporasi besar sebagai penopang utama. Dana pihak ketiga turut tumbuh 22 persen secara tahunan dengan tambahan Rp200,3 triliun. Kualitas kredit membaik, tercermin dari rasio kredit berisiko atau loan at risk yang turun dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen dalam setahun, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL stabil di 1,9 persen, lebih rendah dari rata rata industri 3,8 persen. Permodalan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal 18,1 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator 14,5 persen, sedangkan rasio kredit terhadap simpanan berada di 87,7 persen.

Di sisi digital, jumlah pengguna aplikasi wondr mencapai 15,1 juta hingga Juni 2026, tumbuh 76 persen secara tahunan atau bertambah 6,5 juta pengguna baru, dengan volume transaksi 789 juta kali senilai Rp6.039 triliun sepanjang semester I 2026, naik 14 persen dibanding tahun sebelumnya. BNI juga menyelesaikan implementasi nasional program transformasi cabang bernama BRAVE pada Juli 2026, setelah uji coba di dua kantor wilayah sejak Oktober 2025. Dari sisi pembiayaan berkelanjutan, portofolio hijau dan sosial BNI mencapai Rp195,7 triliun atau 20,5 persen dari total kredit bank only, terdiri atas pembiayaan sosial ekonomi Rp120,4 triliun dan pembiayaan hijau Rp75,4 triliun. Manajemen juga memaparkan bahwa 78 persen analis merekomendasikan beli atas saham BBNI, dengan realisasi laba bersih semester I 2026 mencapai 51 persen dari konsensus laba bersih setahun penuh 2026 sebesar Rp21,3 triliun, serta rasio pembayaran dividen tahun buku 2025 sebesar 65 persen.