PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) menyampaikan kepada Bursa Efek Indonesia hasil Public Expose Tahunan yang digelar Rabu, 30 September 2026, melalui video conference Zoom mulai pukul 10.00 WIB. Agenda utama adalah pemaparan kinerja perseroan periode Desember 2025 dan Juni 2026. Manajemen yang hadir adalah Helmi A. Hidayat selaku Direktur Keuangan dan Perencanaan, Widjaja Hendra selaku Direktur Bisnis, dan Felix I. Hartadi selaku Direktur Kepatuhan dan Corporate Legal, sementara peserta dari luar perseroan yang hadir tercatat 7 orang, terdiri dari investor individu dan wartawan media ekonomi.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkap sejumlah angka kinerja. Laba bersih semester I 2026 tercatat Rp80 miliar, namun manajemen menjelaskan angka itu belum memperhitungkan pajak badan karena perseroan masih memiliki sisa kerugian pajak tahun lalu (tax loss carry forward) sekitar Rp1 triliun yang bisa dikompensasikan. Biaya dana atau cost of fund turun dari 5,27 persen pada Desember 2025 menjadi 4,69 persen pada Juni 2026, sementara dana giro nasabah melonjak dari Rp3,9 triliun menjadi Rp6,3 triliun di periode yang sama. Kredit tumbuh Rp2,3 triliun, didorong terutama oleh sektor industri pengolahan yang naik 20,79 persen serta sektor terkait mineral, termasuk emas selain batu bara dan nikel. Total modal perseroan naik menjadi Rp3,71 triliun dengan rasio kecukupan modal (CAR) 14,53 persen, sementara rasio kredit bermasalah bersih (NPL neto) turun dari 2,26 persen menjadi 1,78 persen berkat perbaikan penagihan. Di sisi lain, margin bunga bersih (NIM) tercatat hanya 2 persen, jauh di bawah rata-rata bunga kredit rupiah 12 persen dan valas 6 persen yang dikenakan perseroan.
Perseroan juga mengonfirmasi akan ada suntikan modal dari pemegang saham induk di Jepang pada akhir tahun ini, meski nilainya belum ditetapkan dan masih dihitung berdasarkan proyeksi permodalan. Terkait porsi saham publik, manajemen menyebut free float saat ini masih 13,74 persen, di bawah target 15 persen, dan akan dikejar lewat kombinasi transaksi pasar reguler serta pelepasan saham dari pemegang saham pengendali. Manajemen juga menyatakan baru melakukan penjajakan awal terkait konsolidasi perbankan sesuai arahan OJK dan belum berencana mengakuisisi perusahaan sekuritas, sementara penggunaan kecerdasan buatan untuk credit scoring disebut masih dalam tahap uji coba.
