Bank Indonesia melaporkan Indeks Harga Properti Residensial atau IHPR pada triwulan II 2026 berada di level 110,89, tumbuh 0,69 persen secara tahunan. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 0,62 persen. Kenaikan ini penting disimak karena menjadi salah satu penanda arah permintaan hunian di pasar primer, terutama bagi konsumen dan pengembang yang tengah memantau tren harga rumah tahun ini.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial BI, penguatan harga kali ini terutama ditopang oleh rumah tipe besar. Indeks harga rumah tipe besar naik ke 108,41 dengan pertumbuhan 0,68 persen yoy, meningkat dari 0,50 persen pada triwulan sebelumnya. Sebaliknya, harga rumah tipe kecil justru melambat menjadi 0,49 persen yoy dari sebelumnya 0,61 persen, sementara rumah tipe menengah relatif stabil di indeks 114,01.

Tren harga properti juga bervariasi antarwilayah. Dari 18 kota yang disurvei, 10 kota mencatat percepatan pertumbuhan harga, tujuh kota melambat, dan satu kota relatif stabil. Pekanbaru menjadi sorotan karena pertumbuhan harganya melonjak ke 3,23 persen yoy, setelah sebelumnya sempat terkontraksi 0,03 persen, disusul Banjarmasin yang menguat ke 1,29 persen dari 0,52 persen. Di sisi lain, Padang dan Balikpapan justru melambat masing-masing ke 0,63 persen dan 1,19 persen.

Secara kuartalan, penguatan harga properti tampak lebih jelas. IHPR pasar primer tumbuh 0,26 persen qtq pada triwulan II 2026, naik signifikan dari 0,04 persen pada triwulan sebelumnya. Pendorong utamanya adalah rumah tipe menengah yang tumbuh 0,40 persen qtq, berbalik arah dari kontraksi 0,01 persen pada triwulan I 2026.