Sulawesi Utara sukses menjadi tuan rumah World Coconut Day (WCD) 2026 yang berlangsung 8 hingga 10 Oktober, ajang internasional yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri kelapa dari berbagai negara. Acara ini penting karena menegaskan arah kebijakan Indonesia, lewat dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), untuk mendorong kelapa naik kelas dari sekadar bahan mentah menjadi produk olahan bernilai lebih tinggi.

Perhelatan yang dipusatkan di Manado ini digagas bersama oleh International Coconut Community (ICC), organisasi yang menaungi 21 negara produsen kelapa dengan total penguasaan sekitar 90 persen pasar dunia, bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, acara bertema "Coconuts in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods" ini juga mencatat sejarah karena untuk kali pertama ICC dipimpin figur asal Indonesia, Jelfina C. Alouw, yang sekaligus menjadi perempuan pertama yang menjabat Direktur Jenderal organisasi tersebut.

Dalam forum ini, kelapa disebut sebagai "Tree of Life" karena hampir seluruh bagiannya, dari akar, batang, daun, hingga buah dan sabutnya, bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Pemerintah melalui BAPPENAS telah memasukkan kelapa sebagai satu dari tiga komoditas prioritas hilirisasi, bersama sawit dan kakao, dengan proyeksi nilai jual produk olahan kelapa bisa melonjak hingga lima kali lipat dibanding dijual dalam bentuk bahan mentah.

Rangkaian WCD 2026 ditutup dengan kunjungan delegasi internasional ke Danau Linauw di Tomohon, sekaligus mempromosikan pariwisata Sulawesi Utara. Momentum ini memperkuat posisi provinsi yang dijuluki "Bumi Nyiur Melambai" itu sebagai pusat riset, diplomasi, dan industri kelapa dunia.