Kementerian Perdagangan menegaskan pentingnya memanfaatkan keanggotaan Indonesia di organisasi komoditas internasional untuk memperkuat posisi kelapa dan lada di pasar global. Hal ini disampaikan dalam seminar yang digelar Sabtu, 17 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City, Tangerang. Pemerintah mendorong pelaku usaha segera melaporkan hambatan yang ditemui di negara tujuan ekspor agar bisa ditindaklanjuti lewat jalur perundingan, karena Indonesia tercatat sebagai pemasok utama dunia untuk kedua komoditas tersebut.
Indonesia telah menjadi anggota International Coconut Community (ICC) dan International Pepper Community (IPC), dua organisasi yang menghimpun negara-negara produsen utama kelapa dan lada dunia. Menurut Kemendag, keanggotaan ini memberi akses ke data perkembangan pasar, peluang pertukaran teknologi, serta kanal untuk menyuarakan kepentingan nasional saat harga komoditas bergerak. Sebagai gambaran skala, pada 2025 luas perkebunan kelapa Indonesia mencapai 3,20 juta hektar dengan produksi 2,72 juta ton, sementara perkebunan lada seluas 141.890 hektar menghasilkan sekitar 52.943 ton.
Selain soal pasar, Kemendag menyoroti potensi hilirisasi kelapa yang selama ini baru banyak diolah menjadi minyak kelapa murni, santan, dan kelapa parut kering. Bahan baku yang sama disebut berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi seperti oleokimia, olahan tempurung, hingga bahan bakar pesawat ramah lingkungan dan biometanol dari sabut kelapa. Direktur Jenderal ICC, Jelfina C. Alouw, menyebut penguatan industri kelapa global membutuhkan kolaborasi lintas negara dan transfer teknologi, sementara Direktur Eksekutif IPC, Marina Novira Anggraini, mendorong pelaku usaha lada memanfaatkan data intelijen pasar dan pameran internasional untuk menciptakan produk olahan bernilai tambah.
Sejumlah pelaku usaha turut membagikan pengalaman lapangan dalam seminar tersebut. Dwianto Arif Wibowo dari Sambu Group menekankan pentingnya kemitraan dengan ICC untuk mendorong riset dan keterbukaan informasi pasar, sementara Farida Joel, pelaku usaha rempah dari Jakarta, menceritakan pertemuannya dengan calon pembeli asal Brasil yang tertarik pada rempah Indonesia sebagai salah satu peluang yang muncul dari ajang ini.
