PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan neto perseroan naik menjadi Rp5,64 triliun, dari Rp4,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu, atau tumbuh sekitar 19 persen. Namun perseroan justru membukukan rugi bersih Rp881,06 miliar, berbalik dari laba bersih Rp2,91 triliun pada sembilan bulan 2025. Penyebab utamanya adalah rugi atas nilai investasi sebesar Rp2,04 triliun, berbanding keuntungan investasi Rp2,32 triliun pada periode sebelumnya, yang membuat perseroan mencatat rugi usaha Rp1,14 triliun dibanding laba usaha Rp2,33 triliun setahun sebelumnya.

Akibat rugi tersebut, rugi bersih per saham dasar dan dilusian tercatat negatif Rp9,21, berbalik dari laba per saham positif Rp30,77 (dasar) dan Rp30,23 (dilusian) pada September 2025. Total ekuitas perseroan turun menjadi Rp24,24 triliun pada akhir September 2026, dari Rp25,31 triliun pada akhir Desember 2025, sejalan dengan bertambahnya akumulasi rugi menjadi Rp8,0 triliun dari Rp7,11 triliun. Total aset juga menyusut menjadi Rp24,92 triliun dari Rp26,03 triliun, dengan kas dan setara kas turun tipis menjadi Rp15,56 triliun dari Rp16,21 triliun.

Di sisi lain, arus kas dari aktivitas operasi justru membaik menjadi Rp181,06 miliar dari Rp149,75 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan juga masih melanjutkan program pembelian kembali saham (buyback), dengan realisasi Rp170,37 miliar selama sembilan bulan 2026, jauh lebih kecil dibanding Rp1,3 triliun yang digelontorkan pada periode yang sama tahun lalu. Saldo saham treasuri bertambah menjadi Rp1,70 triliun dari Rp1,53 triliun, sementara jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh naik sedikit menjadi 103,17 miliar saham dari 103,15 miliar saham akibat program kompensasi berbasis saham.