Bumi Resources Tbk (BUMI) merilis koreksi atas laporan realisasi penggunaan dana hasil empat tahap Obligasi Berkelanjutan I BUMI, yaitu Tahap II dan III Tahun 2025 serta Tahap IV dan V Tahun 2026, dengan total nilai penerbitan Rp3,95 triliun. Koreksi ini menyusul surat penelaahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tertanggal 29 September 2026 atas laporan periode 30 Juni 2026. Dari total dana bersih setelah biaya emisi sebesar Rp3,91 triliun, perseroan baru merealisasikan penggunaan Rp3,01 triliun atau 77 persen hingga 30 Juni 2026. Sisanya, Rp905,88 miliar, belum terpakai dan disimpan dalam rekening giro rupiah di PT Bank Ina Perdana Tbk, pihak ketiga yang tidak berelasi dengan BUMI, dengan bunga 5,6 persen per tahun.

Rinciannya per tahap: dana Tahap II 2025 senilai Rp714,18 miliar sudah 100 persen terpakai, terbagi untuk modal kerja perseroan Rp271,31 miliar (38 persen), akuisisi anak usaha Wolfram atau WFL Rp344,12 miliar (48 persen), dan pinjaman modal kerja ke WFL Rp98,75 miliar (14 persen). Untuk Tahap III 2025 senilai bersih Rp771,99 miliar, dana untuk akuisisi JML Rp340,88 miliar (44 persen) dan pinjaman modal kerja WFL Rp97,5 miliar (13 persen) sudah tuntas, tetapi dana akuisisi PT Laman Mining senilai Rp333,6 miliar (43 persen) masih belum digunakan. Perseroan menargetkan akuisisi ini rampung pada 30 Oktober 2026.

Pada Tahap IV 2026 senilai bersih Rp606,26 miliar, dana modal kerja Rp258,92 miliar (43 persen) sudah terealisasi penuh. Namun dari rencana pelunasan pinjaman perseroan kepada Indies senilai Rp347,34 miliar (57 persen), baru Rp39,6 miliar atau 7 persen yang terbayar, dengan sisa Rp307,74 miliar ditargetkan lunas pada 6 November 2026. Sementara pada Tahap V 2026 senilai bersih Rp1,82 triliun, pinjaman modal kerja ke anak usaha PT Arutmin sebesar Rp1,51 triliun (83 persen) sudah tuntas, tetapi dana modal kerja perseroan Rp316,12 miliar (17 persen) baru terpakai Rp51,59 miliar (3 persen), menyisakan Rp264,54 miliar yang masih tersimpan.