Darma Henwa Tbk (DEWA) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tidak diaudit, ditandatangani Mukson Arif Rosyidi selaku Direktur dan Corporate Secretary pada 15 Oktober 2026. Laba bersih periode tersebut tercatat Rp513,06 miliar, naik 114,6 persen dibanding Rp239,17 miliar pada periode yang sama 2025. Pendapatan naik dari Rp4,65 triliun menjadi Rp5,10 triliun, sementara laba bruto melonjak dari Rp673,15 miliar menjadi Rp1,03 triliun.

Total liabilitas perseroan naik 21,16 persen, dari Rp8,14 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp9,87 triliun per 30 September 2026, kenaikan sebesar Rp1,72 triliun. Dalam penjelasan resmi ke Bursa Efek Indonesia, perseroan menyebut penyebab utamanya adalah pencairan pinjaman sindikasi baru dari Bank BCA dan Bank Mandiri senilai Rp5,04 triliun, yang dipakai untuk melunasi pinjaman sindikasi sebelumnya sebesar Rp3,60 triliun. Selama periode berjalan, perseroan juga telah membayar angsuran pokok Rp381,24 miliar. Penyebab lain kenaikan liabilitas antara lain utang usaha pihak ketiga yang naik Rp282,60 miliar karena pengadaan suku cadang dan jasa, utang pajak yang naik akibat PPN Keluaran terutang Rp73,78 miliar dan PPh Pasal 21 naik Rp6,28 miliar, serta utang lain-lain pihak ketiga yang naik Rp164,27 miliar dari pembelian alat berat.

Di sisi kas dan modal, kas dan setara kas perseroan turun dari Rp1,59 triliun menjadi Rp744,93 miliar. Ekuitas juga turun sedikit dari Rp8,59 triliun menjadi Rp8,27 triliun, meski laba periode berjalan positif, karena perseroan membeli kembali saham treasuri senilai Rp791,42 miliar sehingga saldo saham treasuri naik dari Rp160,29 miliar menjadi Rp951,71 miliar, dan membayar dividen tunai Rp58,57 miliar.