PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) menyampaikan koreksi atas Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum (LRPD) per 30 Juni 2026, menggantikan laporan sebelumnya bernomor 104/EXT-CORP/DIVA/VII/2026 tertanggal 14 Juli 2026. Laporan ini ditandatangani Direktur Utama Raymond Loho dan disampaikan melalui Corporate Secretary Septi Suryani. Dari total dana IPO saham perdana yang efektif pada 16 November 2018 sebesar Rp632,14 miliar, setelah dipotong biaya penawaran umum Rp19,99 miliar atau 3,16 persen dari nilai emisi, hasil bersih yang diterima perseroan tercatat Rp612,14 miliar. Hingga akhir Juni 2026, dana yang sudah direalisasikan mencapai Rp609,14 miliar atau 99,51 persen dari hasil bersih, menyisakan Rp3,00 miliar yang belum terpakai.
Rincian pemakaian dana menunjukkan porsi modal kerja terealisasi Rp394,59 miliar atau 64,46 persen, sebagian besar tercatat sebagai persediaan produk digital telekomunikasi. Porsi investasi terealisasi penuh sesuai rencana sebesar Rp214,39 miliar atau 35,02 persen, tersebar ke aset tak berwujud Rp33,11 miliar, aset tetap Rp38,97 miliar, investasi jangka panjang Rp41,91 miliar, investasi pada entitas anak Rp69,00 miliar, dan piutang pihak berelasi berupa uang muka investasi Rp28,18 miliar. Sisanya, Rp155,25 juta atau 0,03 persen, digunakan untuk pos sumber daya manusia yang dicatat sebagai beban usaha. Rencana alokasi dana ini sendiri sudah tiga kali diubah lewat RUPSLB, terakhir pada 22 Juni 2026 yang menetapkan komposisi modal kerja 64,95 persen, investasi 35,02 persen, dan SDM 0,03 persen, dari sebelumnya 64,06 persen dan 35,92 persen hasil RUPSLB 14 Juni 2023, dan 59,97 persen serta 40,00 persen hasil RUPSLB 11 Februari 2020.
Sisa dana Rp3,00 miliar saat ini ditempatkan di PT Bank Central Asia Tbk dalam bentuk simpanan likuid yang bisa ditarik sewaktu-waktu, dengan bunga 0,5 persen per tahun. Perseroan menyatakan sisa dana ini akan digunakan untuk modal kerja, terutama pembelian persediaan produk digital telekomunikasi dari pihak operator, dengan target waktu penggunaan pada semester kedua 2026. Perseroan beralasan penyisaan dana ini merupakan bentuk kehati-hatian menimbang kondisi usaha dan makroekonomi yang belum stabil pascapandemi, serta efisiensi biaya investasi teknologi informasi.
