PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) menyampaikan tanggapan tertulis atas surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia nomor S-11167/BEI.PP2/09-2026 tanggal 1 September 2026, yang menyoroti sejumlah pos dalam laporan keuangan per 30 Juni 2026. Perusahaan mengonfirmasi bahwa laba bersih tahun lalu sebesar Rp22,38 miliar berbalik menjadi rugi bersih Rp31,97 miliar pada semester pertama 2026, seiring pendapatan yang turun Rp349,36 miliar atau 19,9 persen menjadi Rp1,41 triliun. Manajemen menyebut kondisi makro ekonomi yang belum stabil dan rasio kredit macet UMKM yang naik dari 4,0 persen menjadi 4,6 persen sebagai penyebab utama, sementara pendapatan dari pihak berelasi turun tajam dari Rp341,64 miliar menjadi Rp111,06 miliar.
Total liabilitas perusahaan naik Rp42,94 miliar atau 126,9 persen menjadi Rp76,79 miliar, terutama karena utang bank jangka pendek yang melonjak dari Rp2,47 miliar menjadi Rp40,59 miliar. Kenaikan ini berasal dari fasilitas kredit baru ke PT Berkah Karunia Kreasi sebesar Rp23,02 miliar dan penambahan fasilitas ke PT Berkah Trijaya Indonesia menjadi Rp17,56 miliar, dengan tujuan membiayai pembelian produk digital telekomunikasi dari Telkomsel dan XLSmart. DIVA juga mengalihkan sebagian fasilitas dari Bank Permata berbunga 9,75 persen, yang lunas November 2025, ke BCA dengan bunga lebih rendah 8,25 persen. Perusahaan mengklaim rasio liabilitas terhadap ekuitas masih di bawah 0,2 kali, rasio EBITDA terhadap beban bunga 10,8 kali, dan pemakaian plafon kredit baru mencapai 64 persen dari total Rp63,3 miliar.
Di sisi aset, persediaan produk digital naik Rp19,95 miliar menjadi Rp154,08 miliar, sementara nilai investasi saham TFAS, MCAS, NFCX, dan DMMX yang dicatat sebagai efek diperdagangkan turun Rp37,02 miliar menjadi Rp62,24 miliar akibat kerugian yang belum terealisasi. Perusahaan juga mengonfirmasi eksposur aset ke pihak berelasi, mencakup piutang, pinjaman, obligasi konversi, dan saham afiliasi, mencapai Rp389,12 miliar atau 51,96 persen dari total aset konsolidasian Rp748,86 miliar. Salah satu komponen eksposur itu adalah obligasi konversi senilai Rp68 miliar dengan PT Qerja Manfaat Bangsa yang akan jatuh tempo 31 Desember 2026, dan DIVA menyatakan belum berencana mengonversinya menjadi saham saat jatuh tempo.
