PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) melaporkan rugi bersih Rp34,2 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari laba bersih Rp22,25 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penjualan neto perusahaan turun dari Rp2,61 triliun menjadi Rp2,12 triliun, sementara laba kotor relatif stabil di Rp115,1 miliar. Laba usaha anjlok dari Rp13,9 miliar menjadi Rp5,4 miliar karena beban penjualan naik dari Rp5,6 miliar menjadi Rp8,2 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi relatif tetap di kisaran Rp100 miliar hingga Rp101,5 miliar.
Penyebab utama rugi periode ini bukan dari operasional, melainkan dari pos investasi. DIVA membukukan rugi investasi lainnya sebesar Rp40,9 miliar, berbalik dari untung Rp10,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu, yang membuat total penghasilan lain-lain perusahaan berubah dari untung Rp13,1 miliar menjadi rugi Rp35,9 miliar. Setelah dikurangi pajak Rp3,7 miliar, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp36 miliar, membuat rugi per saham tercatat Rp25,74, berbalik dari laba per saham Rp11,60 pada periode sebelumnya.
Di sisi laporan posisi keuangan, total aset DIVA turun dari Rp737,76 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp714,07 miliar pada akhir September 2026. Total ekuitas ikut turun dari Rp703,92 miliar menjadi Rp669,93 miliar seiring rugi yang tercatat, sehingga defisit saldo laba melebar dari Rp25,12 miliar menjadi Rp61,16 miliar. Sebaliknya, total liabilitas melonjak 30,4 persen dari Rp33,84 miliar menjadi Rp44,13 miliar, yang menurut penjelasan resmi perusahaan ke OJK terutama disebabkan oleh kenaikan utang bank jangka pendek dari Rp2,47 miliar menjadi Rp12,17 miliar.
