Cara dunia menilai kekayaan alam mulai bergeser. Alam kini tidak hanya dilihat sebagai sumber komoditas, tetapi juga dihargai karena kemampuannya menjaga karbon, air, dan keanekaragaman hayati. Pergeseran ini relevan bagi Indonesia karena negara ini dinilai memiliki modal alam besar yang berpotensi masuk ke pasar ekonomi hijau global.
Pandangan itu disampaikan Founder sekaligus CEO PT Visi Carbon Indonesia (VCarboN), Heppy Trenggono, dalam forum Ngobrol Santai Bareng Rektor bertema Carbon Trade dan Masa Depan Indonesia Hijau yang digelar Dewan Profesor Universitas Brawijaya pada 7 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa dunia kini membayar bukan hanya untuk apa yang diambil dari alam, melainkan juga untuk apa yang berhasil dijaga, sehingga kekayaan alam Indonesia berpeluang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru asalkan didukung riset, teknologi, kewirausahaan, dan tata kelola yang berintegritas.
Sejalan dengan gagasan tersebut, Universitas Brawijaya dan VCarboN membuka peluang kerja sama di bidang ekonomi karbon, modal alam, teknologi iklim, riset, serta penguatan sumber daya manusia untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi hijau global. Forum yang dihadiri Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo bersama sejumlah guru besar dan akademisi ini juga membahas bagaimana penetapan harga karbon, perdagangan berbasis intensitas karbon, arus modal, dan regulasi kini ikut membentuk ulang struktur ekonomi dunia.