Bank Indonesia resmi membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Surabaya, Jumat (26/9), sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan baru yang inklusif. Gubernur BI Destry Damayanti menekankan bahwa sinergi antara pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, pemerintah, dan pesantren menjadi penentu apakah pengembangan rantai nilai halal, perluasan pembiayaan, dan peningkatan literasi syariah benar-benar sampai ke masyarakat. Jawa Timur dipilih sebagai tuan rumah karena dianggap barometer ekonomi syariah nasional, didukung populasi Muslim 97,33 persen dan 7.347 pesantren di provinsi itu.
Beberapa angka jadi sorotan dalam acara ini. Laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026 menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia untuk ekonomi syariah. Sektor unggulan rantai nilai halal, mencakup makanan halal, fesyen muslim, dan pariwisata ramah muslim, tumbuh 5,50 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sementara total aset keuangan syariah naik menjadi Rp3.131 triliun. Tingkat pemahaman masyarakat soal ekonomi syariah juga melonjak dari 16,30 persen pada 2019 menjadi 50,18 persen pada 2025, yang berarti sekitar separuh penduduk Muslim Indonesia kini sudah cukup paham konsep ekonomi syariah, naik tajam dari hanya sekitar satu dari enam orang enam tahun lalu.
Pertumbuhan PDB dibanding triwulan yang sama tahun lalu. Turun 0,32 poin dibanding Triwulan I 2026.
Sumber: Badan Pusat Statistik, [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Seri 2010. Diolah The Signal.
Di luar data makro, FESyar Jawa 2026 yang berlangsung 25-27 September membawa tiga program konkret. Pertama, pembentukan Pasar Rakyat dan Zona Kuliner Halal untuk memperkuat jaminan produk halal sekaligus membuka akses pasar bagi UMKM. Kedua, pengembangan wakaf uang produktif yang diarahkan untuk mendukung pendanaan pendidikan. Ketiga, skema pembiayaan khusus untuk pengadaan rumah bagi guru madrasah dan pesantren yang tergabung dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan besarnya aset, melainkan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.
Acara ini digelar berkat kolaborasi Bank Indonesia, pemerintah daerah, Komite Nasional dan Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS/KDEKS), kementerian/lembaga, industri keuangan syariah, pesantren, dan pelaku usaha. FESyar Jawa menjadi penutup rangkaian tiga wilayah, setelah sebelumnya digelar di Sumatera dan Kawasan Timur Indonesia, sebagai bagian dari Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Sejak 2019, format regional ini dipakai BI untuk mempertemukan pelaku usaha dan lembaga pembiayaan sebelum masuk ke perhelatan nasional.
