PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia pada 5 Oktober 2026, menyusul surat permintaan penjelasan BEI bernomor S-12620/BEI.PP1/10-2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Dalam surat yang ditandatangani Direktur Budi Tjahjadi, perseroan mengonfirmasi penjualannya turun Rp245,73 miliar atau 35,67 persen, dari Rp688,96 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp443,23 miliar pada semester I 2026. Penjualan kayu lapis, log kayu, dan veneer, bisnis utama perseroan, turun sekitar 50 persen, sementara segmen pelayaran dan jasa angkut yang baru dikembangkan justru melonjak 665,16 persen meski porsinya masih kecil. Akibat penurunan itu, perseroan mencatat rugi usaha Rp11,52 miliar dan rugi tahun berjalan Rp25,65 miliar. Perseroan menjelaskan penyebabnya adalah kenaikan tarif impor Amerika Serikat terkait penyelidikan anti-dumping dan anti-subsidi terhadap produk Indonesia, ditambah gangguan rute pelayaran akibat ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah yang menaikkan biaya transportasi, sehingga pasar ekspor utama bergeser dari Amerika Serikat yang harga jualnya lebih tinggi ke negara-negara Asia dengan harga lebih rendah.
Beban keuangan bersih perseroan naik 50,82 persen, dari Rp9,36 miliar menjadi Rp14,12 miliar, yang menurut FWCT berkaitan langsung dengan penambahan fasilitas pinjaman baru dan kenaikan beban bunga. Perseroan mengakui belum memenuhi covenant rasio kemampuan membayar utang atau debt service coverage ratio yang disyaratkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dan saat ini sedang membahas permohonan pengecualian atas syarat tersebut dengan kreditur itu. Di sisi lain, piutang usaha naik 29,13 persen, dari Rp50,64 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp65,39 miliar pada Juni 2026, yang menurut perseroan terjadi karena pengiriman ke pelanggan Amerika Serikat dipercepat sebelum tarif baru berlaku sementara pembayarannya belum diterima, ditambah penjualan baru ke Korea dan Malaysia yang memakai mekanisme letter of credit dengan proses pencairan lebih lama dibanding transfer biasa. Perseroan menegaskan tidak ada piutang yang sedang disengketakan atau direstrukturisasi, dan seluruh piutang ekspor hingga Juni 2026 sudah tertagih setelah tanggal pelaporan, sehingga tidak dibentuk cadangan kerugian penurunan nilai piutang.
Bagian lain tanggapan ini menyoroti laporan kepemilikan saham bernomor LK/04092026/0001/1 tertanggal 4 September 2026 yang mencatat seseorang bernama Indra Satriawan sebagai direksi dan pengendali FWCT, dengan kepemilikan berkurang dari 88 lembar menjadi 85 lembar saham. Perseroan menyatakan tidak menemukan catatan transaksi maupun keberadaan nama tersebut dalam struktur direksi, dewan komisaris, pemegang saham, atau pemilik manfaat perseroan. FWCT memaparkan susunan manajemennya saat ini, yakni Budi Tjahjadi sebagai Direktur Utama, Stendy sebagai Direktur, Erwin Kurnia Winenda sebagai Komisaris Utama/Independen, dan Selviana Rumondang sebagai Komisaris, dengan Mareci Susi Afrisca Sembiring menjabat Sekretaris Perusahaan. Dari sisi kepemilikan, pemegang saham pengendali adalah PT Fortuna Anugrah Sumber Terpadu dengan 58,08 persen saham, diikuti First Fortuna Holdings Pte Ltd 23,8 persen, publik 18,03 persen, dan Stendy pribadi 0,09 persen.
