Bank Indonesia mengirimkan total 32,5 ton bantuan kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, mencakup warga di Pulau Palue serta Kabupaten Sikka, Ende, dan Nagekeo. Bantuan disalurkan lewat jalur udara bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan TNI Angkatan Udara. Selain urusan kemanusiaan, langkah ini terkait fungsi Bank Indonesia menjaga peredaran uang tunai dan harga pangan tetap stabil di daerah yang jalur distribusinya terganggu bencana.
Penyaluran dilakukan bertahap mengikuti kebutuhan di lapangan. Tahap pertama pada 24 Agustus sebanyak 8,5 ton berisi obat-obatan, air mineral, makanan siap saji, dan perlengkapan kebersihan. Tahap kedua pada 27 Agustus sebanyak 9,7 ton berupa bahan pangan pokok dan air mineral, sementara tahap ketiga pada 31 Agustus sebanyak 14,3 ton berisi tenda, tempat tidur lipat, genset, tambahan obat, dan makanan siap saji.
Di sisi lain, kantor perwakilan Bank Indonesia di NTT memastikan bank-bank di wilayah terdampak tetap punya cukup uang tunai, termasuk lewat kas titipan atau simpanan uang yang dititipkan ke bank setempat agar tidak perlu bolak-balik ke kantor pusat daerah. Bank Indonesia juga menggandeng TNI Angkatan Laut lewat program Ekspedisi Rupiah Berdaulat untuk mengirim uang layak edar ke pulau-pulau yang sulit dijangkau, yaitu Kupang, Pulau Riung, Pulau Palue, Pulau Pamana, Pulau Waiwerang, dan Pulau Lamalera.
Bank Indonesia turut berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencegah lonjakan harga pangan pascabencana, dengan fokus menjaga pasokan komoditas strategis. Ke depan, bantuan akan berlanjut ke program pemulihan pascabencana dan pemberdayaan masyarakat, yang menurut Bank Indonesia sejalan dengan mandat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
