PT Hasnur Internasional Shipping Tbk (HAIS) melaporkan laba bersih sembilan bulan pertama 2026 sebesar Rp20,35 miliar, turun 70,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp68,61 miliar. Penurunan ini jauh lebih tajam dibanding penurunan pendapatan neto yang hanya turun 10,3 persen, dari Rp661,25 miliar menjadi Rp593,46 miliar, menandakan tekanan pada margin usaha perusahaan pelayaran ini. Laba usaha ikut longsor 48,4 persen menjadi Rp49,74 miliar dari sebelumnya Rp96,43 miliar, sementara beban bunga naik 14,8 persen menjadi Rp23,13 miliar akibat saldo pinjaman bank yang membesar. Laba per saham dasar dan dilusian turun dari Rp26,35 menjadi Rp7,82.
Pada sisi neraca, total aset Hasnur Internasional Shipping naik 9,9 persen menjadi Rp1,69 triliun per 30 September 2026 dari Rp1,53 triliun pada akhir 2025, didorong kenaikan aset tetap dari Rp1,10 triliun menjadi Rp1,25 triliun. Kenaikan aset ini sejalan dengan belanja modal yang melonjak, tercermin dari pembelian aset tetap senilai Rp209,15 miliar pada sembilan bulan 2026, naik dari Rp132,16 miliar pada periode sama 2025. Total liabilitas perusahaan naik 23 persen menjadi Rp853,93 miliar dari Rp695,58 miliar, dan dalam surat resminya kepada Bursa Efek Indonesia tertanggal 29 Oktober 2026, manajemen menyebut kenaikan Rp158,4 miliar itu disebabkan tambahan fasilitas pendanaan bank. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) ikut naik dari 0,83 kali menjadi 1,03 kali, sementara total ekuitas justru menyusut tipis 0,7 persen menjadi Rp833,09 miliar.
Kas dan setara kas perusahaan berkurang dari Rp122,85 miliar menjadi Rp109,19 miliar dalam sembilan bulan ini. Perusahaan juga membayar dividen kas Rp26,12 miliar pada periode ini, lebih kecil dibanding Rp40,36 miliar yang dibayarkan pada periode sama tahun lalu. Laporan ini juga mengungkap empat entitas anak Hasnur Internasional Shipping, termasuk PT Hasnur Resources Terminal yang mengoperasikan terminal dan fasilitas pelabuhan di Kalimantan Selatan dengan aset Rp159,54 miliar dan kepemilikan 98,65 persen, serta PT Hasnur Multi Sinergi di Jakarta Selatan yang belum beroperasi secara komersial namun sudah mencatatkan aset Rp449,44 miliar dengan kepemilikan Perseroan sebesar 55 persen.
