PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA) menggelar Public Expose Tahunan 2026 secara daring lewat Zoom pada Selasa, 8 September 2026, pukul 14.00 hingga 14.27 WIB. Acara dihadiri Direktur Utama Lim Eng Khim dan Direktur Setiawan Nurtjahja, serta diikuti 50 peserta publik di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan. Setelah pemaparan kondisi makroekonomi dan industri, kinerja operasional dan keuangan, mitra perbankan, serta strategi 2026, sesi berlanjut ke tanya jawab dengan peserta.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen menjelaskan bahwa laba bersih semester I-2026 ditopang implementasi rencana bisnis yang mengutamakan pembiayaan alat berat dan truk lewat skema Asset-based Financing, didampingi pembiayaan modal kerja. Tahun ini merupakan tahun keenam HDFA berfokus pada pembiayaan produktif. Namun total pembiayaan baru yang disalurkan hingga semester I-2026 tercatat Rp1,64 triliun, turun 41,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Manajemen menyebut penurunan ini disengaja, sebagai bagian dari strategi yang lebih selektif mengikuti kondisi pasar.
Manajemen menjelaskan sikap kehati-hatian itu muncul meski ekonomi Indonesia tumbuh solid 5,45 persen secara tahunan pada semester I-2026, capaian semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir. Alasannya, hampir separuh portofolio pembiayaan HDFA terkonsentrasi di sektor tambang dan perkebunan, sementara harga komoditas seperti nikel, timah, dan CPO bergerak fluktuatif dan tertekan sepanjang 2026. Manajemen juga menyinggung rencana pemerintah menerbitkan aturan baru tata kelola ekspor batu bara dan kelapa sawit yang mulai berlaku bertahap sejak Juni 2026, serta wacana pajak atau bea keluar tambahan atas windfall profit batu bara dan nikel.
Soal daya saing di industri pembiayaan yang kompetitif, manajemen menyebut keunggulan HDFA sebagai pemain independen terletak pada kecepatan dan efisiensi proses penilaian pengajuan pembiayaan nasabah, ditopang tim bisnis dan analis kredit yang berpengalaman.
