Diskusi ekonomi bertajuk hilirisasi nikel menyoroti bahwa program pengolahan nikel di dalam negeri mulai terasa dampaknya pada ekonomi daerah penghasil, bukan cuma janji di atas kertas. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menyebut perubahan ini penting karena menunjukkan hilirisasi sudah masuk ke tahap industri bernilai tambah tinggi seperti baterai kendaraan listrik, bukan lagi sekadar mengekspor bahan setengah jadi.

Faisal menjelaskan bahwa pada awal 2021-2022, pengolahan nikel nasional umumnya masih berhenti pada produk dasar seperti nickel pig iron dan feronikel. Kini, sejumlah perusahaan di bawah holding tambang BUMN MIND ID sudah mengembangkan pengolahan hingga ke komponen baterai, perkembangan yang menurutnya patut diapresiasi.

Perubahan itu tercermin pada struktur ekonomi Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, dua daerah pusat pengolahan nikel. Faisal mencontohkan lebih dari 75 persen ekonomi Morowali kini ditopang sektor industri, padahal sebelumnya lebih dari separuh perekonomian daerah itu masih bertumpu pada sektor primer seperti pertambangan dan pertanian. Morowali Utara mengalami pergeseran serupa, dengan porsi sektor industri yang jauh membesar dibanding sebelumnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Morowali naik 23,2 persen sepanjang 2014-2024, sementara Morowali Utara naik 21,8 persen pada periode yang sama. MIND ID disebut terus mendorong pengembangan hilirisasi nikel lanjutan di kedua wilayah tersebut.