Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026 dengan menguat 0,29 persen ke level 6.383,81, naik 18,44 poin dari penutupan sebelumnya di 6.365,37. Namun penguatan itu tidak bertahan lama. Dalam rentang sekitar sepuluh menit perdagangan, indeks berbalik arah dan jatuh ke zona merah, sinyal bahwa pasar masih rapuh terhadap sentimen jangka pendek menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Pergerakan pagi itu cukup fluktuatif. Setelah sempat menyentuh level tertinggi 6.388,58, IHSG turun ke 6.379,95, lalu berada di 6.381,37 sekitar pukul 09.00 WIB atau masih menguat 0,25 persen. Namun sekitar pukul 09.10 WIB, indeks anjlok ke 6.320,108, terkoreksi 0,71 persen dari penutupan sebelumnya, atau turun sekitar 63,7 poin dari level pembukaan dan 68,47 poin dari titik tertinggi hari itu. Indeks LQ45 sempat mengikuti tren positif di awal sesi dengan naik 0,30 persen ke 636,01, sebelum ikut terimbas pembalikan arah tersebut.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap sentimen domestik maupun global. Menurutnya, level 6.377 menjadi titik krusial, jika IHSG mampu bertahan di atasnya, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju kisaran 6.463 sampai 6.500, dengan target lanjutan di 6.723. Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.299 berisiko membuka ruang koreksi menuju 6.264 dan 6.230.

Dari sisi global, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juli 2026 yang dijadwalkan Rabu, 12 Agustus 2026. Data inflasi ini kerap menjadi acuan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, sehingga turut memengaruhi arus modal dan sentimen di bursa negara berkembang termasuk Indonesia.