PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyampaikan materi Public Expose Tahunan yang akan dipresentasikan di Jakarta pada 10 September 2026, memuat rincian kinerja kuartal kedua 2026. Perusahaan mencatat pendapatan US$290 juta pada kuartal kedua, naik 15 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, didorong oleh volume produksi yang lebih tinggi dan harga nikel matte yang naik 4 persen menjadi US$14.765 per ton. EBITDA, yaitu laba operasional sebelum bunga, pajak, dan penyusutan, melonjak 45 persen menjadi US$116 juta, sementara laba bersih mencapai US$61 juta, naik 39 persen dari kuartal sebelumnya.

Dari sisi operasional, produksi nikel matte tercatat 16.153 ton dengan pengiriman 13.932 ton, meningkat setelah proyek perbaikan besar Furnace 3 (Furnace 3 Rebuild) rampung pada Juni 2026. Perusahaan juga melaporkan penjualan bijih nikel dari blok Bahodopi dan Pomalaa yang berlanjut sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan. Untuk semester kedua 2026, INCO menyebut tambahan persetujuan RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya tambang yang menjadi syarat produksi) telah diperoleh, yang menurut perusahaan memperkuat kepastian produksi ke depan.

Pada proyek pertumbuhan, perusahaan menyebutkan investasi senilai US$7,2 miliar untuk program pengembangan hilirisasi nikel di Sulawesi yang mencakup tiga blok tambang yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Dua smelter dalam program tersebut telah mencapai penyelesaian mekanis dan perusahaan tengah menuju kesiapan operasional untuk fasilitas HPAL (proses pengolahan bijih nikel kadar rendah). Untuk sisa tahun ini, manajemen menargetkan biaya kas produksi dipertahankan di kisaran atau di bawah US$10.000 per ton, dan menyebut posisi likuiditas yang menguat memungkinkan penarikan pinjaman lebih rendah dari perkiraan awal.