Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong Indonesia dan Sri Lanka melanjutkan perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) ke putaran ketiga. Perjanjian ini nantinya membuka akses pasar Sri Lanka bagi produk Indonesia dengan tarif yang lebih ringan, sehingga peluang ekspor ke kawasan Asia Selatan bisa diperluas.

Dorongan itu disampaikan Budi usai bertemu Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan sekaligus Menteri Tenaga Kerja Sri Lanka, Anil Jayantha Fernando, di Jakarta, Rabu (16/9). Perundingan ISL-PTA sendiri sudah dimulai sejak Maret 2024, dengan putaran pertama secara daring pada April 2024 dan putaran kedua di Kolombo pada Juli 2024. Sejak itu, Sri Lanka disebut masih melakukan peninjauan internal atas isi perjanjian sebelum bisa lanjut ke putaran berikutnya.

Sepanjang Januari-Juli 2026, total perdagangan kedua negara tercatat US$266 juta, terdiri dari ekspor Indonesia US$244 juta dan impor US$22 juta. Sepanjang 2025, total perdagangan mencapai US$530,2 juta dengan ekspor US$476,7 juta dan impor US$53,5 juta, sehingga Indonesia mencatat surplus US$423,1 juta. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Sri Lanka meliputi kopra, mobil dan kendaraan bermotor angkutan orang, produk setengah jadi dari besi atau baja nonpaduan, asam lemak monokarboksilat industri, minyak asam, alkohol lemak industri, serta tembakau mentah dan sisa tembakau. Sementara komoditas impor utama dari Sri Lanka meliputi kain rajutan atau kaitan, minyak bumi dan minyak dari mineral bitumen, mesin pengolah tembakau, serta berbagai produk ban.

Dalam pertemuan itu, Anil juga menyampaikan rencana Sri Lanka mengirim delegasi ke Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang, sekaligus menggelar forum investasi di sela acara tersebut. Sri Lanka menyatakan minat terhadap produk pupuk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka. Budi merespons dengan mendorong agar kunjungan delegasi itu dimanfaatkan untuk mempertemukan pelaku industri pupuk kedua negara, guna menjajaki peluang kerja sama lebih lanjut.