Pemerintah menjadikan pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi Integrated Shrimp Farming (ISF) Waingapu di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu proyek andalan untuk mendongkrak ekonomi sekaligus menekan kemiskinan di wilayah tersebut. Investasi yang digelontorkan mencapai sekitar US$500 juta atau setara Rp7,2 triliun, dengan kawasan ini dirancang bukan sekadar tambak berskala besar, melainkan sebagai pusat industri yang menyambungkan seluruh rantai produksi udang dari hulu sampai hilir.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, mengatakan proyek ini disiapkan untuk memberi dampak ekonomi langsung bagi warga NTT, wilayah yang masih menghadapi tantangan kemiskinan cukup besar. Ia menyebut ISF Waingapu diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan membantu pengentasan kemiskinan di kawasan tersebut.

Proyek ini dibangun di lahan seluas 2.150 hektare di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Sekitar 1.361 hektare di antaranya akan dipakai untuk kolam budidaya dan fasilitas pendukung seperti tandon air, instalasi pengolahan air limbah klaster, jaringan intake, fasilitas karantina, jalan produksi, serta instalasi pengolahan air limbah utama.

Hingga 29 Juli 2026, progres pembangunan fisik baru mencapai sekitar 10 persen, dikerjakan dengan dukungan lebih dari 300 unit alat berat. Pemerintah menargetkan konstruksi rampung pada akhir 2027 sehingga ISF Waingapu bisa mulai beroperasi awal 2028, dengan target produksi sekitar 52.800 ton udang per tahun untuk memperkuat pasokan di pasar domestik maupun ekspor.