PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) menyampaikan laporan keuangan interim teraudit untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan melalui surat nomor 022/SK/IRSX-OJK/IX/2026 tertanggal 16 September 2026. Laporan ini diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Suharli, Sugiharto & Rekan dengan partner penanggung jawab Ridho Fathoni, dan memperoleh opini wajar tanpa modifikasian alias opini bersih tanpa catatan pengecualian.

Dari sisi kinerja, pendapatan Folago pada semester I 2026 tercatat Rp275,09 miliar, naik dari Rp100,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bruto melonjak dari Rp1,18 miliar menjadi Rp44,22 miliar. Perusahaan yang tahun lalu masih merugi Rp1,7 miliar dari kegiatan usaha kini membukukan laba usaha Rp19,4 miliar, dan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp7,72 miliar, berbalik dari rugi Rp1,59 miliar pada semester I 2025. Laba per saham dasar tercatat Rp1,25, dibandingkan rugi per saham Rp0,32 pada periode sebelumnya.

Peningkatan total aset dan liabilitas yang melebihi 20 persen dibanding akhir 2025 membuat Folago wajib mengirim penjelasan tertulis ke Bursa Efek Indonesia sesuai Peraturan Bursa No. I.E, sebagaimana disampaikan dalam surat nomor 021/SK/IRSX-BEI/IX/2026 yang ditandatangani Direktur Charlie. Total aset naik 44 persen dari Rp360,23 miliar menjadi Rp517,77 miliar, sementara total liabilitas melonjak 347 persen dari Rp44,87 miliar menjadi Rp200,49 miliar. Perseroan menjelaskan kenaikan ini terutama berasal dari peningkatan aktivitas bisnis pada layanan jasa pemasaran digital, tiket konser, serta distribusi dan lisensi konten. Di neraca, uang muka pelanggan melonjak dari Rp1,61 miliar menjadi Rp126,75 miliar, piutang usaha pihak ketiga naik dari Rp37,18 miliar menjadi Rp219,84 miliar, dan utang usaha pihak ketiga bertambah dari Rp32,69 miliar menjadi Rp44,55 miliar. Di sisi lain, kas dan setara kas justru turun dari Rp110,15 miliar menjadi Rp57,38 miliar.

Ekuitas Folago relatif stabil, naik tipis dari Rp315,36 miliar menjadi Rp317,28 miliar. Namun komposisinya berubah: kepentingan nonpengendali, yaitu porsi saham anak usaha yang dimiliki pihak di luar grup, turun tajam dari Rp14,58 miliar menjadi Rp1,48 miliar, sementara muncul pos baru senilai Rp8,35 miliar berupa selisih nilai transaksi ekuitas dengan pihak nonpengendali. Perseroan juga membukukan penurunan nilai aset takberwujud sebesar Rp3,04 miliar dan kerugian nilai wajar aset keuangan tidak lancar lainnya Rp678,85 juta pada periode berjalan.