Pemerintah menjadikan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu andalan untuk mengejar swasembada garam nasional, yaitu target agar kebutuhan garam dalam negeri bisa dipenuhi sendiri tanpa impor. Proyek ini disebut Kawasan Sentra Industri Garam Nasional atau KSIGN, dengan total area yang ditetapkan mencapai 10.764 hektare. Selain untuk menambah produksi garam, proyek ini juga diarahkan sebagai instrumen pemerataan pembangunan di NTT lewat penciptaan lapangan kerja dan penggerak ekonomi lokal.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari menyampaikan bahwa pengembangan KSIGN Rote Ndao merupakan bagian dari program prioritas nasional untuk memperluas pusat pertumbuhan ekonomi di NTT. Dalam konferensi pers di Kantor Bakom, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026), ia menjelaskan bahwa dari target 2.000 hektare yang digarap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pembangunan tahap pertama seluas 616 hektare di Kabupaten Rote Ndao sudah rampung. Tahap kedua seluas 751 hektare kini masih dalam proses pengerjaan.

Lahan tahap pertama yang sudah selesai dibangun saat ini memasuki masa uji coba produksi. Pemerintah menargetkan panen perdana dari lahan seluas 616 hektare tersebut bisa dilakukan pada November 2026.

Dari total kawasan seluas 10.764 hektare yang masuk program kerja prioritas nasional, pemerintah tidak mengambil alih seluruh lahan untuk dikelola sendiri. Sekitar 2.000 hektare yang digarap KKP akan dikembangkan lewat skema kerja sama pemanfaatan lahan milik masyarakat setempat.