Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membawa rombongan calon investor mengunjungi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang pada 9 September 2026, sebagai bagian dari Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah yang digelar dua hari sebelumnya di Semarang. Kunjungan ini penting karena memberi kesempatan langsung bagi calon investor untuk melihat kesiapan kawasan seluas 4.300 hektare yang disiapkan sebagai pusat industri manufaktur maju, energi hijau, dan infrastruktur digital.

Forum tersebut mengangkat tema besar soal pertumbuhan berkelanjutan lewat manufaktur canggih dan infrastruktur digital, dan mempertemukan pemerintah, pengelola kawasan industri, pelaku usaha, serta calon investor dalam satu forum. Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi/BKPM, Saribua Siahaan, menegaskan pemerintah terus menyederhanakan regulasi agar investor mudah masuk. "Don't worry, we are on your side. We know you are efficient, you are stable, you need profit. From government, we will make regulation, make it easy for you to come to Indonesia," ujarnya.

Dari sisi daerah, Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, menyebut investasi yang masuk berdampak pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas usaha, penguatan rantai pasok, dan pertumbuhan UMKM di daerah. Ia menekankan bahwa angka investasi bukan sekadar capaian statistik, melainkan terkait langsung dengan pendapatan masyarakat dan penguatan ekonomi daerah.

Jawa Tengah mengandalkan sejumlah modal pendukung untuk menarik investor, mulai dari konektivitas jalan tol Trans-Jawa, infrastruktur pelabuhan dan bandara, ketersediaan kawasan industri dan KEK, hingga tenaga kerja produktif. Modal-modal inilah yang menjadi dasar promosi Jawa Tengah, termasuk KEK Industropolis Batang, sebagai lokasi investasi kepada calon penanam modal dari sektor manufaktur berorientasi ekspor.