Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai pemanfaatan teknologi seperti big data dan kecerdasan buatan (AI) dapat mengoptimalkan potensi penerimaan pajak Indonesia ke depan. Pernyataan ini penting karena pemerintah tengah mencari cara mendongkrak penerimaan negara tanpa harus membebani dunia usaha dengan pungutan baru. Hal itu disampaikan Juda dalam International Tax Conference 2026 di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Menurut Juda, pemerintah menghadapi tantangan menyeimbangkan dorongan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan disiplin fiskal yang tetap terjaga. Untuk mencapai keduanya, ia menyebut perlu mobilisasi penerimaan yang lebih kuat, kualitas belanja yang lebih baik, serta pembiayaan yang dilakukan secara hati-hati. Reformasi perpajakan disebut jadi bagian penting strategi itu, namun Juda menekankan reformasi yang bermakna butuh bukti kuat, bukan sekadar ambisi kebijakan, atau yang ia sebut sebagai kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking).

Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Keuangan kembali membuka undangan bagi akademisi untuk mengirimkan karya tulis ilmiah lewat program call for paper tahun ini. Temanya adalah transformasi kebijakan dan administrasi pajak untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan di era ekonomi digital. Juda juga mendorong Direktorat Jenderal Pajak bersama Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu untuk berkolaborasi menentukan pertanyaan riset yang paling relevan dengan tantangan ekonomi digital saat ini.