Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum Jemmy Setiawan menegaskan bahwa kedaulatan tidak cukup diukur dari status politik semata, melainkan harus terasa dalam keseharian rakyat. Ia menyebut kedaulatan itu hadir lewat air yang mengalir ke sawah petani, jalan yang menghubungkan desa dengan pasar, jembatan yang mengantar anak sekolah, hingga akses air minum dan sanitasi yang layak. Pernyataan ini penting karena menunjukkan arah kerja kementerian yang bertanggung jawab menghadirkan infrastruktur dasar sampai ke pelosok, bukan hanya di kota besar.

Kementerian PU sendiri lahir bersamaan dengan Republik ini, didirikan pada Agustus 1945 dan kini genap berusia 81 tahun. Kantor pusatnya semula menempati Gedung Sate di Bandung, bekas gedung Departement van Verkeer en Waterstaat peninggalan kolonial yang menyimpan arsip teknis penting negara. Pada 3 Desember 1945, sebanyak 21 pegawai PU mempertahankan gedung itu dari serangan pasukan Sekutu dan NICA, tujuh di antaranya gugur dan dikenang sebagai pahlawan Sapta Taruna, peristiwa yang kemudian menjadi dasar peringatan Hari Bakti PU setiap 3 Desember.

Jemmy menyebut pesan dari peristiwa itu diteruskan secara berbeda di masa sekarang, dari mempertahankan gedung negara menjadi membangun infrastruktur agar kehadiran negara dirasakan seluruh rakyat. Seiring waktu, peran kementerian ini bergeser dari sekadar memperbaiki prasarana pasca-revolusi menjadi motor pembangunan nasional, dengan tonggak seperti Bendungan Jatiluhur pada 1957, Jembatan Semanggi, dan Jalan Tol Jagorawi pada 1978 sebagai bukti kemampuan teknokratis insinyur Indonesia.