Kalbe Farma Tbk (KLBF) menggelar public expose tahunan pada Jumat, 11 September 2026, yang dihadiri 129 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan. Perusahaan diwakili oleh Direktur sekaligus Chief Financial Officer Kartika Setiabudy, Corporate Secretary Maria Teresa Fabiola, dan staf Investor Relations Alexandra Winstan, dengan moderator dari PT Bursa Efek Indonesia.
Dalam sesi tanya jawab, Kartika Setiabudy mengakui tekanan pada margin kotor perseroan sepanjang semester pertama 2026 akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor yang turut dipengaruhi kondisi geopolitik di Timur Tengah. Manajemen memperkirakan margin belum akan membaik signifikan hingga semester kedua tahun ini. Sebagai respons, perseroan membuka peluang kenaikan harga jual secara terbatas dan selektif, terutama di lini produk konsumen, sementara di segmen obat resep ruang kenaikan harga lebih sempit karena tren pergeseran ke obat generik. Segmen nutrisi, terutama susu bubuk yang menjadi porsi terbesar bisnis ini, juga tertekan oleh pelemahan daya beli masyarakat.
Nilai barang yang dibeli Indonesia dari luar negeri. Naik 0,19 miliar US$ dibanding Juni 2026. Tertinggi dalam 31 bulan yang tercatat. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (21.914,1).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Impor. Diolah The Signal.
Terkait belanja modal, perseroan semula mengalokasikan Rp1 triliun untuk tahun ini guna menambah kapasitas di sektor farmasi dan nutrisi. Namun akibat gangguan rantai pasok global yang dipicu kondisi geopolitik, manajemen kini memprioritaskan dana tersebut untuk modal kerja ketimbang ekspansi kapasitas. Di sisi ekspor, kontribusi pasar luar negeri masih berkisar 7 persen dari total penjualan, dengan target pertumbuhan dua digit dan ASEAN tetap menjadi tujuan utama tanpa rencana penambahan negara baru tahun ini. Perseroan juga menyatakan tetap membuka opsi merger dan akuisisi untuk memperkuat lini bisnis specialty dan biologics, termasuk pengembangan dua produk baru berkategori obat paten hasil kerja sama dengan mitra regional.
Manajemen turut mengungkapkan bahwa anak usahanya, PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), belum memenuhi ketentuan free float terbaru dari Bursa Efek Indonesia. Perseroan menyatakan tengah menjajaki peningkatan porsi saham publik EPMT secara bertahap pada 2027 dan 2028 sesuai aturan bursa, namun mengakui perlu mengantisipasi konsekuensi delisting apabila persyaratan tersebut akhirnya tidak dapat dipenuhi.
