Di tengah bebatuan karst Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang selama ini dikenal sulit ditanami, sebuah usaha pengolahan lidah buaya justru tumbuh dan kini membidik pasar ekspor. PT Mount Vera Sejati, pemilik merek Rasane Vera, mengubah lahan berbatu yang kerap dianggap tidak produktif menjadi sumber penghidupan bagi ratusan petani kecil saat musim kemarau. Kisah ini relevan karena menunjukkan bagaimana daerah dengan keterbatasan alam bisa membangun rantai usaha pertanian bernilai ekspor, bukan sekadar menjadi wilayah tadah hujan yang bergantung pada bantuan.

Usaha ini berdiri sejak 2014 dan kini menggandeng lebih dari 125 petani mitra yang menggarap lahan sekitar dua hektare untuk memasok pelepah lidah buaya segar. Selain membeli hasil panen, perusahaan membentuk kelompok perempuan tani yang dilatih mengolah lidah buaya menjadi produk olahan seperti dodol, yang kemudian dijual di kawasan agrowisata Aloe Land milik perusahaan yang sama. Dalam proses produksinya, sisa pelepah yang tidak terpakai diolah menjadi pupuk organik dan eco-enzyme, cairan hasil fermentasi yang dipakai kembali sebagai pupuk alami untuk lahan tanam.

Produk yang dihasilkan terbagi dua segmen: untuk konsumen langsung berupa minuman dan camilan siap santap seperti Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink, serta untuk pelaku industri berupa Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel yang jadi bahan baku makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi. Saat Trade Expo Indonesia 2026, perusahaan ini disebut mendapat ketertarikan dari calon pembeli asal Swedia yang meminta potongan lidah buaya berukuran lebih kecil, meski belum ada informasi mengenai nilai maupun status kelanjutan transaksi tersebut. Perusahaan menyasar ekspor ke Persatuan Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, serta mengaku pernah menyandang predikat Young Ambassador Agriculture pada 2023.