PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menggelar Public Expose Tahunan 2026 pada Rabu, 9 September 2026, secara virtual dan tatap muka, dihadiri lebih dari 211 peserta dari kalangan investor, analis, dan media, dimulai pukul 10.00 WIB. Materi dipaparkan oleh Direktur dan Chief Operating Officer Amri Siahaan serta Direktur dan Chief Financial Officer Benny Setiawan. Untuk kuartal pertama 2026, Perseroan mencatat pendapatan US$668,3 juta, naik 19,2 persen dibanding tahun lalu dan 4,7 persen dibanding kuartal sebelumnya, dengan EBITDA US$351,1 juta dan margin EBITDA 52,5 persen. Laba bersih melonjak menjadi US$67,4 juta dari US$17,6 juta pada kuartal pertama 2025, ditopang kontribusi laba bersih dari Amman Mineral sebesar US$33,5 juta, sementara arus kas operasi naik 29,7 persen dan rasio utang terhadap laba operasional membaik ke 1,7 kali. Secara operasional, produksi minyak dan gas semester pertama 2026 mencapai 170,1 ribu barel ekuivalen minyak per hari, naik 19 persen dibanding tahun lalu, dengan komposisi 72 persen gas dan 28 persen cairan serta cadangan terbukti dan terduga sebesar 542 juta barel ekuivalen. Penjualan listrik tercatat 2.323 gigawatt jam, naik 16,5 persen, dengan energi terbarukan menyumbang sekitar 25 persen dari total penjualan. Peringkat ESG dari MSCI juga naik ke level tertinggi AAA pada 23 Maret 2026, naik tiga peringkat dari BBB sejak 2021.

Untuk 2026, MedcoEnergi mematok target produksi minyak dan gas 165 hingga 170 ribu barel ekuivalen minyak per hari, penjualan listrik 4.550 gigawatt jam, dan belanja modal US$430 juta. Dalam sesi tanya jawab, pemegang saham Budi Santoso menanyakan mengapa data operasional yang dipaparkan sudah mengacu ke semester pertama 2026 sementara data keuangan masih kuartal pertama. Amri Siahaan menjawab bahwa laporan keuangan semester pertama masih dalam proses audit, dengan batas penyampaian sesuai aturan OJK paling lambat akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan. Pemegang saham lain, Hendra Nasution, menanyakan apakah target produksi akan dinaikkan karena realisasi semester pertama sudah melampauinya. Amri Siahaan menegaskan target tetap dipertahankan karena merupakan rata-rata setahun penuh yang memperhitungkan jadwal pemeliharaan dan penurunan alami produksi di semester kedua, dan Perseroan akan mengumumkan ke publik bila ada perubahan material. Yudi Pratama menanyakan apakah hasil keuangan semester pertama akan lebih baik mengingat produksi dan harga minyak yang lebih tinggi di kuartal kedua. Benny Setiawan menjawab belum bisa mengungkap angka pasti karena laporan belum dipublikasikan, namun menyatakan cukup percaya diri hasilnya akan lebih baik.

Pertanyaan lain dari Irwan Kurniawan menyoroti nilai kepemilikan MedcoEnergi di Amman Mineral yang disebut sekitar US$2,6 miliar, dan menanyakan apakah ada rencana menjual saham tersebut. Benny Setiawan menjawab bahwa kepemilikan itu merupakan investasi strategis yang selama ini memberi kontribusi baik, terutama karena prospek emas dan tembaga masih menjanjikan. Ia menambahkan bahwa opsi untuk memonetisasi sebagian atau seluruh kepemilikan itu selalu ada, namun masih perlu dikaji dari sisi valuasi, waktu yang tepat, dan manfaatnya bagi pemegang saham, dan keputusan material akan diumumkan ke publik bila terjadi.

Acara dilanjutkan dengan konferensi pers yang dihadiri 14 wartawan selama 15 menit. Amri Siahaan merinci belanja modal 2026 terbagi menjadi US$415 juta untuk lini minyak dan gas serta US$15 juta untuk ketenagalistrikan. Terkait volatilitas harga minyak, ia menjelaskan sekitar 55 persen produksi terekspos harga pasar dan 45 persen dijual dengan harga gas domestik yang tetap, ditambah skema pembagian hasil kontrak kerja sama yang memberikan pemulihan biaya penuh sehingga meredam dampak fluktuasi harga. Benny Setiawan menambahkan bahwa Perseroan terus mengevaluasi peluang akuisisi di Asia Tenggara dan Timur Tengah pada negara yang stabil dengan regulasi yang sudah dipahami, sambil tetap mengandalkan jalur pertumbuhan organik lewat proyek Natuna, Corridor, Senoro, dan Oman.