PT Merck Tbk menggelar Public Expose Tahunan pada 8 Oktober 2026 di kantor perusahaan di Pasar Rebo, Jakarta Timur, dihadiri 28 peserta dari media, pemegang saham, dan publik di luar jajaran manajemen. Acara dimoderatori Corporate Secretary Melisa Sandrianti, dengan Direktur Keuangan Bambang Nurcahyo dan Direktur Plant Arryo Aritrixso Teguh Putranto Wachjuwidajat sebagai pembicara. Dalam sesi tersebut, manajemen menjelaskan pencatatan beban penurunan nilai aset atau impairment senilai Rp87 miliar di pabrik Pasar Rebo, yang dipicu oleh berakhirnya Manufacturing Service Agreement dengan P&G. Kontrak itu diteken 1 September 2026 dan akan berakhir 31 Desember 2027, padahal produk P&G saat ini menyumbang sekitar 80 persen volume produksi pabrik. Impairment dibukukan pada September 2026 agar tercermin dalam laporan keuangan kuartal ketiga 2026, namun Bambang menegaskan angka tersebut belum diaudit dan akan diverifikasi oleh auditor independen Deloitte pada Desember 2026.

Di sisi lain, manajemen memaparkan bahwa laba bersih semester I 2026 tumbuh 396 persen secara tahunan, hampir empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio utang terhadap ekuitas tercatat 0,27 kali, rasio lancar 5 kali, return on assets 9,10 persen, dan return on equity 11,59 persen. Manajemen menekankan bahwa pencatatan impairment adalah langkah akuntansi yang mencerminkan perubahan prospek bisnis setelah kontrak P&G usai, bukan gambaran menyeluruh kesehatan keuangan perusahaan, dan menyatakan tetap optimistis dapat membagikan dividen kepada pemegang saham meski ada beban tambahan pada semester II 2026.

Untuk menopang bisnis setelah kontrak P&G berakhir, Merck berencana memperluas ekspor produk Glucophage XR, Glucophage IR, Glucovance, dan Concor. Pada 2026 ekspansi diarahkan ke Filipina untuk Glucovance, lalu pada 2027-2029 menyasar Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand. Perseroan juga menyiapkan peluncuran obat kanker paru Tepmetko, sementara produk dari akuisisi SpringWorks oleh Merck KGaA pada 1 Juli 2025 masih menunggu business case sebelum bisa dipasarkan di Indonesia, dengan peluncuran diperkirakan belum terjadi pada 2026 maupun 2027. Terkait ketergantungan bahan baku, sekitar 45-50 persen bahan baku Perseroan masih diimpor, dengan produk healthcare mengimpor sekitar 80 persen bahan baku dari Prancis, Swiss, dan Jerman, sementara produk P&G mengimpor 75-80 persen terutama dari Tiongkok. Manajemen menyebut pengelolaan risiko nilai tukar dilakukan terpusat oleh tim treasury Merck Group di Jerman, bukan di tingkat lokal.