PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) menyampaikan materi public expose insidentil melalui surat Corporate Secretary Putra Harianto Bate'e bernomor 013/NexAI/Corsec/IX/2026, tertanggal 15 September 2026, untuk paparan yang dijadwalkan sehari setelahnya. Pubex ini digelar menyusul permintaan Bursa Efek Indonesia pada 9 September 2026, setelah BEI mengumumkan penghentian sementara perdagangan saham MGLV di Pasar Reguler dan Pasar Tunai lewat pengumuman No. Peng-SPT-00172/BEI.WAS/09-2026 untuk masa cooling down.

Dalam materi tersebut, total aset Perseroan turun 2,06 persen dari Rp187,9 miliar pada akhir Desember 2025 menjadi Rp184,0 miliar per 30 Juni 2026, sementara total liabilitas justru naik 16,86 persen dari Rp59,7 miliar menjadi Rp69,8 miliar. Akibatnya, total ekuitas tergerus 10,88 persen menjadi Rp114,2 miliar. Dari sisi laba rugi, pendapatan bersih semester I 2026 anjlok 74,56 persen menjadi Rp26,1 miliar dibanding Rp102,7 miliar pada periode sama tahun lalu, dan laba kotor turun 88,01 persen menjadi Rp4,9 miliar. Perseroan yang semula membukukan laba usaha Rp11,7 miliar berbalik merugi Rp13,9 miliar, sementara laba neto Rp9,6 miliar berbalik menjadi rugi neto Rp14,1 miliar. Perseroan mencatat bahwa angka-angka ini mencerminkan kondisi sebelum transaksi akuisisi dan perubahan kegiatan usaha yang berlangsung pada September 2026.

Materi itu juga memaparkan rangkaian aksi korporasi yang mengubah arah bisnis MGLV menjadi data center. PT Nextier Datamate Center tercatat menjadi pemegang saham pengendali sejak Februari 2026. Setelah keterbukaan informasi soal PMHMETD I, transaksi afiliasi dan material, serta perubahan kegiatan usaha pada 3 September 2026, RUPSLB pada 7 September 2026 menyetujui perubahan kegiatan usaha sekaligus akuisisi NAC dan NGC yang rampung pada hari yang sama. Sehari berikutnya, 8 September 2026, Perseroan menuntaskan divestasi 13 anak usaha beserta pengalihan aset dan kewajiban, dan pada 10 September 2026 mengumumkan Prospektus Ringkas PMHMETD I. Kini bisnis data center dijalankan lewat NAC, yang mengoperasikan fasilitas 6 MW di Jababeka dan tengah menambah kapasitas 36 MW, serta NGC yang membangun fasilitas 60 MW di Kawasan Industri Terpadu Batang. Perseroan menyatakan tidak ada informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan ke publik.