Mitra Investindo Tbk (MITI) menyampaikan laporan keuangan interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, ditandatangani Presiden Direktur Andreas Tanjadi dan Direktur Keuangan Ignatius Edy Suhardaya pada 28 Oktober 2026. Pendapatan perusahaan turun menjadi Rp151,31 miliar, dari Rp170,33 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bruto ikut tergerus dari Rp48,03 miliar menjadi Rp37,75 miliar, sementara beban usaha justru naik dari Rp35,53 miliar menjadi Rp39,20 miliar, sehingga perusahaan mencatat rugi usaha Rp1,45 miliar, berbalik dari laba usaha Rp12,50 miliar pada periode sebelumnya.

Sumbangan dari pendapatan keuangan, selisih kurs, dan keuntungan penjualan aset tetap sebesar total Rp4,77 miliar tidak cukup menutup rugi usaha, sehingga laba sebelum pajak hanya Rp2,73 miliar dan laba bersih konsolidasian turun tajam menjadi Rp175,6 juta, dari Rp10,96 miliar pada periode yang sama 2025. Karena sebagian laba itu adalah bagian pemegang saham minoritas di anak usaha, bagian yang menjadi hak pemilik entitas induk justru rugi Rp1,45 miliar, sehingga rugi bersih per saham dasar tercatat Rp0,39, berbalik dari laba Rp2,12 per saham setahun sebelumnya.

Di sisi posisi keuangan, jumlah aset naik menjadi Rp579,55 miliar dari Rp570,80 miliar, didorong kenaikan aset tetap menjadi Rp143,51 miliar dan aset eksplorasi menjadi Rp10,31 miliar. Jumlah liabilitas naik menjadi Rp67,90 miliar dari Rp57,80 miliar, terutama karena pinjaman bank jangka pendek baru sebesar Rp10 miliar yang sebelumnya nol. Jumlah saham kelas B yang beredar juga bertambah dari 3.420.735.503 menjadi 3.630.526.603 lembar, setelah uang muka setoran modal sebesar Rp59,81 miliar dikonversi menjadi modal disetor penuh, menambah modal saham Rp10,49 miliar dan tambahan modal disetor Rp49,32 miliar.