PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN), produsen elektronik yang berbasis di Batam, melaporkan pendapatan periode Januari sampai September 2026 sebesar US$277,61 juta, naik 56 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar US$177,86 juta. Namun beban pokok pendapatan naik lebih cepat, dari US$153,26 juta menjadi US$256,76 juta, sehingga laba kotor justru turun dari US$24,60 juta menjadi US$20,85 juta. Margin laba kotor perusahaan menyusut dari 13,8 persen menjadi 7,5 persen dari pendapatan, tanda bahwa biaya produksi menggerus untung lebih dalam dibanding laju pertumbuhan penjualan.

Setelah dikurangi beban usaha, rugi selisih kurs, dan beban bunga, laba sebelum pajak tercatat US$8,04 juta, turun dari US$13,35 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih sembilan bulan ikut turun 40,6 persen menjadi US$6,18 juta dari US$10,41 juta, dengan laba per 1.000 saham dasar turun dari US$1,96 menjadi US$1,16. Arus kas dari aktivitas operasi juga menyusut tajam, dari US$23,60 juta menjadi US$7,01 juta, sementara kas dan setara kas perusahaan di akhir September 2026 tersisa US$4,98 juta, hampir separuh dari US$10,20 juta pada akhir Desember 2025.

Di sisi neraca, total aset naik 6,7 persen menjadi US$244,12 juta, terutama didorong kenaikan piutang usaha pihak ketiga dari US$35,34 juta menjadi US$55,60 juta dan persediaan dari US$35,26 juta menjadi US$38,35 juta. Utang usaha kepada pihak ketiga juga melonjak dari US$49,92 juta menjadi US$70,00 juta. Total ekuitas perusahaan naik tipis menjadi US$131,31 juta, setelah perusahaan membagikan dividen tunai US$2,07 juta pada periode ini, naik dari US$1,70 juta tahun sebelumnya. Jumlah saham beredar tidak berubah, tetap 5.314.344.000 saham.