PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) menggelar Public Expose Tahunan 2026 secara virtual pada Senin, 7 September 2026 pukul 16.00 WIB melalui Public Expose Live Bursa Efek Indonesia, dihadiri 23 peserta eksternal dari kalangan investor, media, dan masyarakat umum di luar manajemen dan karyawan perseroan. Acara dipandu moderator Gloria Biwin dengan Direktur James S. Chandra dan Direktur Sunyoto Bambang Kusumo mewakili jajaran direksi. Materi yang dipaparkan mencakup profil usaha, kinerja keuangan dan operasional, serta rencana pengembangan bisnis 2026, dengan pemaparan utama disampaikan oleh Sunyoto Bambang Kusumo.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkap laba bersih perseroan berbalik dari rugi Rp3,5 miliar menjadi laba Rp4,11 miliar, seiring kenaikan margin kotor (GPM) dari 13,52 persen menjadi 20,63 persen. Sunyoto menjelaskan perbaikan ini bukan berasal dari investasi baru, melainkan optimalisasi rute yang sudah ada, setelah pada 2025 perseroan sempat berinvestasi besar di proyek Kalimantan khususnya IKN yang ternyata tidak diiringi pertumbuhan belanja modal pemerintah di wilayah tersebut. Manajemen menyebut capaian kuartal berjalan sudah mencapai 85 persen dari target dan memperkirakan pertumbuhan akan semakin baik hingga akhir tahun, meski tantangan utama saat ini adalah kelangkaan pasokan batu bara yang berimbas pada pasokan semen.
Soal konsentrasi pendapatan, manajemen mengungkap sekitar 7 persen pendapatan angkutan perseroan berasal dari Inalum melalui PT Samudera Banten Logistik. Untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis angkutan semen curah dan FABA (fly ash dan bottom ash), MPXL memperluas portofolio ke pengangkutan CPO dan batu bara serta mulai masuk sebagai distributor semen curah langsung. Anak usaha PT Tambang Raya Sejahtera yang didirikan awal 2026 untuk berdagang batu bara sempat terhambat izin RKAB di sejumlah tambang Sumatera Selatan dan Kalimantan, dan manajemen menargetkan mulai bertransaksi batu bara di wilayah Cilegon pada kuartal keempat 2026. Perseroan juga menyatakan belum ada rencana penambahan armada baru maupun aksi korporasi di tahun 2026, dengan kemungkinan aksi korporasi dan kunjungan investor baru dipertimbangkan tahun depan.
