Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan bahwa dinamika pasar modal dan nilai tukar rupiah belakangan ini perlu dibaca dari sisi fundamental ekonomi, bukan sekadar fluktuasi harian. Pernyataan itu disampaikannya dalam forum Business Talk Kompas TV di Jakarta, Selasa (3/11). Menurut Dradjad, Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet paripurna telah meminta jajarannya melakukan perbaikan mendasar terhadap pasar modal Indonesia, respons yang relevan di tengah ancaman penurunan status pasar modal RI oleh lembaga pemeringkat indeks global MSCI.
MSCI tengah mempertimbangkan mengubah klasifikasi Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market), status yang biasanya disematkan ke pasar yang dianggap kurang likuid atau belum cukup terbuka bagi investor asing. Sebagai respons, pemerintah mendorong emiten untuk lebih terbuka soal struktur kepemilikan saham, termasuk mewajibkan pengungkapan identitas pemegang saham dengan porsi di atas 1 persen. Langkah ini digabung dengan penguatan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan terhadap praktik manipulasi harga saham, yang di kalangan investor dikenal dengan istilah goreng-gorengan. Dradjad menyebut penilaian MSCI tetap perlu dilihat secara proporsional, mengingat reformasi pasar modal di Indonesia sedang berjalan dan penyedia indeks lain belum menurunkan status Indonesia.
Soal nilai tukar, Dradjad mengingatkan bahwa sejumlah proyeksi pelemahan rupiah yang pernah beredar tidak terbukti, seperti perkiraan rupiah menembus Rp20.000 per dolar AS pada Oktober 2025 dan mencapai Rp25.000 per dolar AS pada semester pertama 2026. Ia menilai penilaian risiko kurs mestinya didasarkan pada perkembangan fundamental ekonomi secara keseluruhan, bukan proyeksi sepihak. Untuk menjaga ketahanan nilai tukar, pemerintah menyebut sumber devisa dari sektor pariwisata dan kiriman uang pekerja migran Indonesia sebagai dua andalan yang perlu terus diperkuat.
Dradjad juga menyoroti pergeseran pola belanja masyarakat dari toko fisik ke platform daring pada sejumlah kategori barang, tren yang menurutnya ikut mempengaruhi aktivitas ekonomi domestik dan daya saing produk dalam negeri. Ia meminta investor ritel tidak mengambil keputusan secara terburu-buru merespons isu downgrade MSCI, melainkan mempertimbangkan fundamental dan prospek jangka panjang perusahaan. Dradjad menambahkan bahwa penyedia indeks lain di luar MSCI belum mengubah status pasar modal Indonesia, sehingga menurutnya sikap tenang dan rasional dari investor akan membuat pasar tidak mudah bergejolak.
