PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) menjawab surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia tertanggal 16 Oktober 2026 terkait pengambilalihan sahamnya oleh Saiko Consultancy Pte Ltd dari pengendali lama, Asia Intrainvesta. Perseroan menjelaskan bahwa harga pengambilalihan sebesar Rp23,5 per saham, jauh di bawah harga penutupan saham di bursa pada 19 Agustus 2026 yang sebesar Rp63 per saham, merupakan hasil negosiasi penjual dan pembeli dalam skema jual beli saham dalam jumlah besar, bukan cerminan penurunan kinerja keuangan perusahaan. Menyusul pengambilalihan itu, RUPS Luar Biasa pada 2 Oktober 2026 menyetujui pengangkatan Nusttanakit Sasiarnon sebagai Direktur dan Sawin Laosethakul sebagai Komisaris, keduanya perwakilan Saiko. Perseroan memastikan tidak ada perubahan kebijakan dividen maupun perjanjian utang penting akibat pengambilalihan ini, dan Saiko bersama PT Saiko Consultancy Grand menyatakan tidak berencana melepas status pengendali dalam 10 tahun ke depan.
Perseroan juga menjelaskan rencana membeli 1.138.500 saham Bangkok Tellink Co Ltd (BTL), setara 20 persen dari 5.692.500 saham BTL, senilai Rp448,3 miliar. Dana itu tidak akan diambil dari kas internal yang per 30 Juni 2026 hanya tersisa Rp6,1 miliar, melainkan dari dana hasil Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue) yang akan dilakukan bersamaan dengan proses inbreng, yaitu penyetoran modal dalam bentuk saham Bangkok Tellink, bukan uang tunai, ke dalam NAYZ. Total nilai pengalihan saham BT diperkirakan US$125 juta atau setara Rp2,24 triliun berdasarkan metode arus kas masa depan (discounted cash flow) oleh penilai Avison Young, jauh di atas nilai ekuitas BTL pada laporan keuangan 2025 yang cuma Rp27,9 miliar. Perseroan menyebut nilai final nanti akan mengacu pada penilaian independen dari kantor jasa penilai publik yang terdaftar di OJK. Dari rincian aset BT per akhir 2025, total asetnya tercatat Rp74 miliar, terdiri dari kas Rp1,7 miliar, piutang usaha Rp20,1 miliar, persediaan Rp19,7 miliar yang sebagian besar berupa 9.000 unit mesin penjual otomatis kartu SIM isi ulang di gerai 7-Eleven di Thailand, serta aset tidak lancar lain seperti goodwill aplikasi payment gateway dan jaminan saldo pulsa.
Soal lini bisnis, Perseroan menegaskan tidak ada perubahan rencana: bisnis makanan bayi yang selama ini dijalankan akan tetap berjalan sampai proses inbreng selesai, setelah itu kegiatan usaha akan beralih sepenuhnya ke bidang telekomunikasi dan teknologi, sejalan dengan bisnis Bangkok Tellink yang bergerak di layanan operator jaringan virtual, isi ulang pulsa, dan sistem pembayaran elektronik. Perseroan memperkirakan RUPS independen dan pernyataan pendaftaran rights issue berlangsung pada kuartal pertama 2027, disusul pembelian 20 persen saham BTL dan pernyataan efektif dari OJK pada kuartal kedua 2027. Kepemilikan efektif 75 persen atas BTL serta konsolidasi pendapatannya ke laporan keuangan NAYZ ditargetkan baru tercermin pada laporan keuangan periode 31 Desember 2027. Dalam 12 bulan ke depan, perusahaan berencana menggelar RUPS Luar Biasa untuk meminta persetujuan pemegang saham atas pelaksanaan rights issue tersebut.
