Pemerintah tengah menyiapkan pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, sebuah pasar perdagangan baru yang dirancang agar Indonesia bisa ikut menentukan harga komoditas andalannya sendiri, bukan sekadar mengikuti harga yang terbentuk di luar negeri. Rencana ini penting karena selama ini harga jual komoditas seperti minyak sawit mentah dan nikel banyak mengacu pada bursa internasional, meski Indonesia adalah salah satu produsen terbesarnya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bursa baru itu akan mengambil bentuk yang mirip Bursa Efek Indonesia, dengan nama kerja Indonesia Commodity Exchange atau Icomex. Ia menegaskan tujuan utamanya adalah kedaulatan, yakni penentuan harga barang-barang produksi dalam negeri yang selama ini tidak sepenuhnya berada di tangan Indonesia.

Pemerintah belum menetapkan daftar lengkap komoditas yang akan diperdagangkan di bursa ini, tetapi memastikan tiga komoditas akan menjadi prioritas karena merupakan produksi utama nasional, yaitu minyak sawit mentah atau CPO, nikel, dan batu bara. Mekanisme penentuan harganya akan mempertimbangkan biaya produksi di dalam negeri sekaligus perkembangan harga di pasar global, meski rumus pastinya belum diumumkan.

Rencana ini juga bersinggungan dengan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange atau ICDX, bursa komoditas yang sudah lebih dulu beroperasi. Prasetyo menyebut posisi ICDX masih perlu diatur agar selaras dengan skema bursa baru yang sedang disiapkan pemerintah.