Kementerian ESDM memastikan harga BBM bersubsidi, pertalite dan biosolar, tidak akan naik sampai akhir 2026, meski harga minyak dunia sempat melonjak ke 107 dolar AS per barel akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Kepastian itu disampaikan Wakil Menteri ESDM Yuliot, merujuk pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Keputusan ini penting karena pertalite adalah BBM yang paling banyak dipakai masyarakat, terutama pengendara motor dan angkutan umum, sehingga menahan harganya berarti menahan salah satu komponen biaya hidup terbesar.

Kepastian itu tidak berlaku untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, yang harganya tetap menyesuaikan rata-rata harga minyak dunia setiap bulan. Yuliot menyebut lonjakan ke 107 dolar AS per barel terjadi pada akhir September 2026, melanjutkan tren naik setelah sempat melandai pada Juni dan Juli.

Kenaikan harga minyak dunia ini menambah tekanan pada anggaran negara. Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menjamin defisit APBN tetap terkendali dengan asumsi harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau ICP di level 100 dolar AS per barel. Namun perhitungan peneliti Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menunjukkan rata-rata ICP sepanjang Januari hingga September baru sekitar 90,6 dolar AS per barel, di bawah asumsi tersebut.

Merespons gejolak harga ini, ESDM menyatakan akan mempercepat eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi dalam negeri. Yuliot mengatakan pemerintah sudah memetakan sejumlah lapangan migas dengan potensi produksi 2.500 hingga 3.000 barel per hari, yang akan digenjot prosesnya pada 2027 dan 2028, sebagai bagian dari target mencapai produksi 1 juta barel minyak per hari pada 2029-2030 untuk swasembada energi nasional.