Joko Purnomo, Ketua Kelompok Tani Sri Makmur di Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, membuktikan penerapan teknologi bisa mengubah hasil pertanian padi secara signifikan. Lahannya kini menghasilkan hingga 9 ton gabah per hektare dengan frekuensi panen tiga kali dalam setahun, capaian yang menunjukkan pertanian skala kecil masih punya ruang besar untuk tumbuh lebih menguntungkan.

Perjalanan Joko tidak dimulai dari modal besar. Selama sekitar 20 tahun menekuni pertanian padi, ia sempat harus berutang dan menggadaikan BPKB kendaraannya hanya untuk membeli hand traktor bekas sebagai alat mengolah lahan pada masa awal usahanya.

Dari keterbatasan itu, Joko bertahap mengadopsi sejumlah teknologi pertanian. Ia menerapkan metode dapog untuk persemaian padi yang bisa dilakukan di pekarangan rumah tanpa butuh lahan luas, memasang sumur submersible untuk memastikan pasokan air, serta menggunakan rotavator berukuran besar yang memangkas waktu pengolahan lahan yang sebelumnya dikerjakan manual.