PEFINDO menegaskan kembali peringkat idAAA dengan outlook stabil untuk PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo (PIKI), serta peringkat idAAA untuk Obligasi I Pelindo IV Tahun 2018 Seri C senilai Rp800 miliar. Keputusan diambil dalam rapat Komite Pemeringkat Pefindo pada Selasa, 6 Oktober 2026, berlaku untuk periode 6 Oktober 2026 sampai 1 Oktober 2027. Pelindo menerima surat hasil pemeringkatan pada 8 Oktober 2026 dan melaporkannya ke Otoritas Jasa Keuangan pada 9 Oktober 2026. Peringkat idAAA ini sudah dipertahankan Pelindo sejak Oktober 2022, sehingga penegasan kali ini merupakan yang kelima berturut-turut.
Pefindo mendasarkan penilaiannya pada laporan keuangan tidak diaudit per 30 Juni 2026 dan laporan keuangan audit per 31 Desember 2025. Total aset Pelindo tercatat Rp128,7 triliun per Juni 2026, naik dari Rp126,1 triliun pada akhir 2025, sementara total utang turun dari Rp47,7 triliun menjadi Rp47,5 triliun dan total ekuitas turun dari Rp50,4 triliun menjadi Rp49,7 triliun. Pendapatan semester pertama 2026 tercatat Rp18,5 triliun dengan EBITDA Rp6,5 triliun dan laba bersih setelah hak minoritas Rp2,4 triliun, sementara sepanjang 2025 pendapatan setahun penuh mencapai Rp36,7 triliun dengan laba bersih Rp4,2 triliun. Rasio utang terhadap EBITDA membaik dari 4,3 kali pada akhir 2025 menjadi 3,7 kali pada Juni 2026, meski rasio utang terhadap ekuitas naik tipis dari 0,9 kali menjadi 1,0 kali.
Pefindo menyebut peringkat ini mencerminkan peran strategis Pelindo bagi pemerintah, posisi pasar yang superior, serta pendapatan berulang yang stabil, meski sebagian diimbangi oleh struktur permodalan dan indikator perlindungan arus kas yang moderat. Pelindo lahir dari penggabungan empat operator pelabuhan negara, Pelindo I sampai IV, yang efektif sejak 1 Oktober 2021, dan kini mayoritas dimiliki Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui PT Danantara Asset Management (Persero), sementara pemerintah memegang satu saham Seri A Dwiwarna yang menjaga hak dan kendali khususnya atas perusahaan. Pefindo menyatakan peringkat bisa diturunkan jika dukungan pemerintah melemah signifikan, misalnya lewat pelepasan kepemilikan negara yang material, jika utang Pelindo membengkak jauh dari proyeksi akibat belanja modal atau biaya ekspansi pelabuhan yang lebih tinggi dari perkiraan, atau jika volume petikemas dan kargo turun secara material dan berkepanjangan.
