PT Semacom Integrated Tbk, emiten dengan kode saham SEMA, disebut berpeluang naik ke level bisnis baru setelah terlibat dalam proyek Data Center CGK5 dan CGK7. Analis pasar modal dari Menteng Kleb Institute, Fauzan Luthsa, menilai keikutsertaan SEMA sebagai pemasok Power Train Unit (PTU) dan unit SKID membuka jalan bagi perusahaan untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok infrastruktur pusat data. Hal ini relevan bagi pembaca karena menunjukkan bagaimana pembangunan infrastruktur AI di Indonesia mulai merambah ke perusahaan pemasok komponen kelistrikan, bukan hanya pemain besar penyedia sistem utuh.

Fauzan menghitung, dengan asumsi kontrak tersebut mendorong penjualan sekitar Rp2 triliun dan perusahaan mampu menjaga margin laba bersih di angka 10 persen, laba bersih SEMA pada 2027 diperkirakan mencapai sekitar Rp200 miliar. Dengan asumsi tambahan rasio harga saham terhadap laba, yang biasa disebut PER, sebesar 10 kali, perhitungan itu menghasilkan taksiran kapitalisasi pasar sekitar Rp2 triliun. Fauzan menekankan SEMA bukan penyedia sistem kelistrikan data center secara keseluruhan, tetapi masuk pada bagian yang ia sebut cukup fundamental dalam rantai pasok tersebut.

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai pertumbuhan permintaan infrastruktur digital masih akan kuat dalam tiga sampai lima tahun ke depan seiring kebutuhan AI. Menurutnya, investasi pusat data berpotensi menciptakan efek berganda bagi industri pemasok peralatan dasar seperti kelistrikan, sepanjang produknya memenuhi standar internasional. Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, Ian Yosef M. Edward, menambahkan bahwa pertumbuhan pemanfaatan AI akan mendorong kebutuhan kapasitas data center yang lebih besar, termasuk fasilitas dengan layanan GPU as a Service.